Showing posts with label My own story. Show all posts
Showing posts with label My own story. Show all posts

Wednesday, December 5, 2012

Selamat Jalan Bapak!

Dengan tertawa lebar Yono bercerita tentang calon mertuaku.

"Tahu gak, setiap kali ketemu orang Pakdhe Slamet selalu dengan bangganya mengatakan, "Anakku sarjana sastra Inggris". Dan itu selalu diberitahukan pada semua orang yang ia temui."
"Yang benar saja?" tanyaku singkat.
"Bener. Pakdhe selalu membawa pembicaraan ke arah itu."

Ternyata calon mertuaku ini benar-benar membanggakanku  sebagai seorang sarjana sastra Inggris. Aku heran apa yang membuat beliau amat bangga dengan gelarku ini. Ah mungkin karena di kampungnya belum ada sarjana. Terdengar di telinganya barangkali gelar ini sangat-sangat wah. 

Ah sudahlah, itu bukan hal penting. Yang paling penting adalah bahwa aku mencintai anaknya, calon istriku.

Lima bulan kemudian, tepatnya tanggal 13 Mei 2007, pernikahan besar-besar diadakan. Aku datang disambut bak pahlawan yang menang dari perang. Gagah sekali. Semua mata tertuju padaku. Aku mengenakan kaos oblong, celana jeans, dan sepatu kets, langsung disambut dengan sebuah kendi yang diserahkan padaku. Aku bingung apa yang harus kulakukan. 

Yono pun angkat bicara.
"Sen, banting itu kendi sampai pecah!" teriaknya.
Tanpa basa-basi langsung kubanting keras-keras takutnya tidak pecah.
"Brakkk!!!" kendi pun pecah. Air muncrat ke mana-mana terutama ke wajah calon mertuaku. Semua orang pun tertawa. Kudengar ada bisikan kata yang menggelitikku, "Iki mantene edan." Aku pun tersenyum dalam hati.

Aku didandani bak ketoprak. Gagah sekali. Kulirik mertuaku ini tersenyum bangga, seolah mengatakan pada semua orang "Ini lho mantuku hebat, seorang sarjana sastra Inggris dari salah satu universitas negeri di Indonesia." Mertuaku ini menang.

Hari pun berlalu. Usia bulan madu, aku harus kembali ke luar kota, melanjutkan pekerjaanku. Masa cutiku sudah habis.

Aku bangga sekali memiliki istri yang cantik, lembut, dan masih muda. Ia masih kuliah waktu itu, sambil mengajar di salah satu SD. Meskipun jauh hubungan kami sangat mesra.

Waktu berlalu. Beberapa bulan kemudian, istriku pun mengandung buah cinta kami. Di usia kandungan 3 bulan, istriku lumpuh. Setiap hari muntah darah, baik kental maupun segar. Tidak ada asupan sedikit pun. Aku pun cuti kerja selama sebulan hanya untuk mengurusi istriku. Ke mana pun pergi aku harus menggendongnya. 

Wajahnya pucat pasi. Badannya kurus kering. 

Suatu pagi, setelah minum susu, istriku langsung muntah darah. Kutatap wajahnya lekat-lekat. Aku pun meneteskan air mata.

Istriku bertanya, "Kenapa menangis mas? Aku tidak apa-apa kok. Aku pasti sembuh," sambil tersenyum dipaksa.

"Aku sayang kamu Nok. Aku sayang kamu selamanya. Apapun kondisimu aku sangat menyayangimu. Aku ingin kau cepat sembuh," jawabku sambil terasa sesak dadaku.

Aku rawat istriku sampai sembuh. Kubawa ke rumah sakit. Kurawat dengan cinta hingga sembuh.

Istriku sembuh. Hari berlalu. Enam bulan kemudian putraku lahir. Tampan seperti aku. Aku bingung mau kukasih nama apa. Constantine Abdullah. Iya nama itu rasanya bagus untuknya.

Namun ada kendala. Ketika itu aku tidak punya uang sepeser pun. Aku pun harus menutup wajahku saat aku bilang pada bidan yang menangani kelahiran istriku. Aku malu. Aku tidak punya uang sepeser pun. Rokok pun aku minta pada temanku.

Hari-hariku sangat bahagia. Aku berjuang, bekerja kerjas, semakin keras untuk masa depan keluargaku. Semakin hari anakku pun semakin besar. Ia sudah mulai mengerti mainan. Ia minta dibelikan mobil-mobilan,, minta dibelikan sepeda. Ah bahagianya.

Dua setengah tahun berlalu. Di tempat kerjaku yang super-super parah seperti robot, di mana aku harus berangkat pagi pulang petang dengan gaji yang sangat tidak layak, sementara aku harus memikirkan susu anakku juga memberi nafkah anakku. Belum lagi beban kerinduan manakala aku menelepon anakku, dan dia selalu menanyakan, "Bapak, sedannya di mana?" Terasa teriris hati ini. Aku tidak mungkin bisa membeli sedan. Jangankan sedan, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pun aku tidak mampu. Malu. Sarjana Sastra Inggris tidak mampu memberi nafkah layak pada istriku dan anakku. Menangis batin ini. 

Juli 2010 aku pun memilih mengundurkan diri dari pekerjaan lamaku, dan aku mencari pekerjaan ke sana kemari. Tiga bulan berlalu aku belum juga mendapatkan pekerjaan yang layak. Dapat pekerjaan tetapi jaminan ijazah terakhir, sementara ijazah terakhir ada di tangan bosku, tidak bisa kubawa. Pedih.

Aku putuskan pulang ke kampung berkumpul dengan istri dan anak. September 2010 aku pun pulang. Terkejut. Istriku yang dulu pernah bersumpah setia, bahkan jika ada orang kaya yang membawa emas segunung, atau orang tampan seperti Nabi Yusuf tidak akan pernah berpindah hati, tapi kini istriku berubah.

Ia tidak lagi mau disentuh. Aku dibentak-bentak seperti anjing kurapan. 
"Sarjana sastra Inggris yang bodoh tidak berguna," pikirku dalam hati.

"Mas, mau puasa gak, sahur. Nasinya ada di magic com, sayurnya hangatkan sendiri, ada di almari, dan bikin teh sendiri. Aku ngantuk," begitu istriku membangunku saat puasa. 

Batin ini sakit sekali. Istriku sudah berubah. Dulu ia selalu menyiapkan santap sahurku saat aku masih tidur, selalu mempersiapkan santapan bukaku, tapi kini begitu dinginnya aku harus menyiapkan semua sendiri. Tidak ada lagi canda tawanya yang indah. Aku tidak lagi gigi gingsulnya tersungging di pipinya. Sakit.

Ternyata itu pun tidak hanya dilakukan oleh dirinya sendiri, seluruh keluarganya pun memperlakukanku serupa. Apakah karena aku jadi pengangguran terus aku diperlakukan begini. Bahkan pernah suatu kali istriku bilang padaku, "Mas, aku sekarang jadi benci sama kamu."

Ya Allah, apa yang salah padaku, mengapa demikian jadinya. Istriku yang lembut, yang hangat jadi berubah begini. Seminggu aku bertahan,, aku pun tidak kuat. Aku putuskan pulang ke rumah orang tuaku di kabupaten lain.

Ketika ditanya orang tuaku, aku pun menjawab, "Widya dan Constantine sementara ingin lebaran di sana Pak. Dan aku pengin ikut derep di sini pak, lumayan bisa untuk tambah-tambah biaya hidup anak dan istri," jawabku menutupi.

Hari pun berganti. Bapak nampaknya curiga melihat sikapku. 

"Sebenarnya ada apa Sen? Nampaknya ada masalah dengan keluargamu di sana?" tanya bapak penuh selidik.
"Gak ada apa-apa Pak. Kami baik-baik saja," jawabku lirih.

Aku pun derep (memanen padi di sawah). Orang-orang di kampungku pun heran, mereka menggunjingku. "Percuma sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi petani juga," bisik beberapa tetanggaku.

Tetapi aku pun diam. Aku tidak peduli, yang penting halal untuk anak dan istriku.

Pagi hari aku berangkat dan sore hari aku baru pulang. Lumayan rata-rata sehari aku dapat satu karung gabah hasil derep padi. 

Menjelang masa panen berakhir, aku sangat terkejut saat aku dapati sms gelap dikirimkan padaku.

"Kalau punya istri itu dijaga, ditunggui, jangan sampai dikeloni orang," bunyi sms itu.
"Maaf, ini siapa ya?" jawabku.

Ia tidak menyebutkan namanya. Tetapi ia bercerita panjang lebar tentang perselingkuhan istriku. Istriku sudah biasa menginap di rumah orang, berselingkuh. Panas juga hati ini. Tetapi aku masih belum percaya. 

Aku tidak bisa tidur. Tetapi apakah mungkin, karena sifat istriku sudah berubah. Dulu setiap saat dia selalu sms, telepon, tapi sekarang jangankan balas sms, ditelepon pun gak pernah diangkat, alasannya sibuk. 

Hari terus berjalan. Aku galau segalau-galaunya, karena tanda-tanda itu semakin jelas. Tapi jika aku pulang ke rumah istriku tidak membawa uang aku pun malu. Aku ngebut. 

Tepat panen berakhir, aku mendapatkan gabah 8 kwintal. Aku jual. Separu kukirim utnuk anak dan istriku sementara separo lagi aku buat ongkos ke Lampung mencari mbahku yang belum pernah ketemu seumur hidup. 

Di Lampung 10 hari, aku pun pergi ke Semarang, mencari pekerjaan. Au diterima di sebuah perusahaan international forwarding yang menangani ekspor impor. Super sibuk sekali kegiatanku. Di bagian dokumen bill of lading, aku jarang sekali pulang ke kos. Hampir 24 jam sehari 7 hari seminggu aku di kantor. Pekerjaan sangat banyak. 

14 Februari 2011 aku putuskan untuk pulang. Aku telepon istriku bahwa besok aku akan pulang. 

"Jangan besok mas, Constantine mau diajak jalan-jalan sama Mbah," katanya memohon.

Tetapi aku sudah tidak tahan. Aku rindu sekali pada Constantine putraku. Aku pun pulang dengan meminjam sepeda motor temanku.

Terkejut. Saat aku sampai rumah. Dingin sekali. Jam sudah menunjukkan waktu pukul 22. Aku pun langsung masuk kamar memeluk anakku. Istriku yang tadinya sudah tidur  segera bangun, dan pindah tempat. 

Ponselnya ternyata tertinggal. Di situlah semua terbongkar. Ternyata benar bahwa istriku selingkuh. Di smsnya sangat mesra sekali. Ternyata sudah biasa ngalor ngidul bersama. Dhani Ariwibawa namanya. Mereka sudah memanggil mama dan ayah satu sama lain. Selalu mengatakan rindu dan kangen.

Aku panggil istriku "Nok, sejauh apa hubunganmu dengan Dhani?"
Dengan ketus ia menjawab, "Hanya teman biasa."
"Hanya teman biasa?" tanyaku.

Aku tunjukkan hp. Ini bukti semuanya. Mukanya pucat pasi. Dia pun berusaha merebut hp itu dari tanganku. Aku dipukulnya. Bajuku ditarik hingga sobek. 

"Ternyata benar apa yang aku rasakan. Ternyata benar apa yang dikatakan orang. Kenapa kamu sebegitu teganya No?" tanyaku sambil meneteskan air mata. Hati ini terasa sangat sakit. Sakit lagi manakala membayangkan Constantine harus memiliki ayah tiri.

Gaduh. Mertuaku pun pulang dari main di rumah tetangga. Pak Slamet Rahayu namanya. 

"Pak, ternyata Widya benar selingkuh. Di sini semuanya ada Pak," aku bilang sama bapak mertuaku.
"Sing sabar kowe Sen. Wis istirahat dulu," kata bapak mertuaku tanpa ekspresi bersalah.

Aku heran mengapa Pak Slamet, mertuaku  yang dulu gembar-gembor bangga, yang selalu mengatakan, "Kalau Widya macem-macem kugantung di bawah pohon pinus" dan itu dikatakan pada semua orang, kini begitu lemahnya. 

Aku tidak tahan. Anakku pun ikut menangis. Satu kata-kata terakhir yang kubisikkan pada anakku, "Nak, bapak menyayangimu selamanya."

Pukul 02.00 aku pun keluar, dengan mengendarai sepeda motor aku langsung melaju di Pantura menuju ke Kota Semarang. Dengan air mata yang terus menetes. Kepalaku pusing. Pikiranku kalut. Sebegitukah balasan pengorbananku? Hanya karena aku sedang tidak punya uang kemudian aku ditendang? Bahkan mertuaku yang dulu membangga-bangagakanku pun sekarang mendukung?

Dua bulan lamanya aku seperti orang gila. Aku keluar dari pekerjaan. Aku jarang makan. Kerjaku hanya minum kopi dan merokok. Jarang tidur. Aku sulit menerima kenyataan bahwa istriku selingkuh, juga seluruh keluarganya pun mendukung perselingkuhan itu.

Dua bulan setelahnya aku bertemu sahabatku. Aku dinasihatinya panjang lebar. Kemudian aku dibimbingnya sehingga aku "sadar" bahwa apapun daya upayaku kalau Allah mengendaki lain pun percuma. Dan itu terbukti. 

Pak Slamet meneleponku. Ia marah besar, mengajak ketemuan di mana pun tempatnya. Ia ingin aku segera mengurus perceraian itu. Sakit luar biasa. 

Aku katakan padanya, "Kalau bapak butuh, silahkan bapak datang ke sini. Aku tidak mau datang ke situ. 

Semakin marahlah ia. Pengacara paling mahal pun dibayarnya supaya segera tuntas perceraianku. Hatiku pun makin sakit. 

Tidak ingin mendengar kabar tentang sepak terjangku juga mertuaku yang semakin menyakitkan, aku menutup semua akses di mana aku mungkin mendengar info tentang istriku dan keluarganya. Aku ganti nomor hp, aku blokir semua teman-teman facebook. Aku setting privacy facebookku, yang tidak berteman denganku tidak bisa mengirimkan pesan. Ketika ada orang menambahkanku sebagai teman, aku lihat dulu. Jika ada kemungkinan akses ke sana, langsung kublokir. 

Waktu terus berlalu. Aku semakin tenggelam dengan rutinitasku. Tetapi bayangan pengkhiatan istriku terus saja menghantui. Aku sering memimpikan istriku saat ia selingkuh. Hatiku semakin sakit. Aku seperti diburu setan. Takut sekali. Mengerikan sekali. 

Sebulan, dua bulan, dan bulan berlalu, tahun pun berganti. 

Sore itu, Selasa 27 November 2012, aku membuka akun Facebook. Aku kaget setengah mati saat membaca pesan dari adikku yang bunyinya, "Kang, bapaknya Mbak Widya meninggal dunia."

Tetapi aku kemudian tertutup oleh rasa sakit. Ah meninggal itu sudah biasa. Aku pun abaikan. Tetapi adikku kemudian sms lagi, "Constantine kangen sama Kakang. Dia selalu menanyakan terus."

Air mataku meleleh. Aku rindu pada anakku, yang setahun lebih aku tinggalkan. Bukan aku tidak rindu pada putraku, aku sangat rindu. Aku sangat kangen. Tetapi rasa sakit ini, rasa sakit dicampakkan, rasa sakit dihina dina luar biasa sakitnya. 

"Kamu dapat kabar dari mana?" tanyaku pada adikku.
"Aku dapat kabar dari sepupunya Mbak Widya," jawabnya singkat. 

Lalu aku pun meminta nomor ponselnya dan aku hubungi. Aku berharap bisa berbicara dengan putraku. 

"Om, Mbahe Constantine selalu menanyakanmu setiap kali sebelum meninggal," katanya.
"Yang benar kang?" tanyaku gak percaya.
"Benar Om. Mungkin ada pesan yang ingin disampaikan, tapi aku tidak tahu apa pesannya itu," jawabnya.

Aku pun segera meluncur ke lokasi. Sebelum aku sampai, aku telepon temanku dulu. Dia bercerita panjang lebar. 

Ternyata setelah kepergianku, dan seiring waktu, mertuaku itu sangat menyesal. Dia sangat menyesal. Anaknya sudah menendangnya. Ia sudah tidak di rumah selama 4 bulan, pergi dari rumah. Ditendang oleh anaknya juga menantunya yang baru. Omongannya menyakitinya. 

Ia berkata, "Seno itu sudah aku sakiti berulangkali, tetapi tidak pernah sekalipun baik tindakan maupun ucapan yang pernah menyakitiku," ditirukan sahabatku itu.

"Aku sangat menyesal Yon. Sekarang aku lagi sakit. Nanti kalau aku sembuh, aku akan bawa Constantine dan kucari Seno ke mana pun ia berada akan kucari. Biar kubesarkan Constantine bersamanya. Aku akan ikut bersama Seno membesarkan Constantine," imbuh sahabatku mengikuti ucapan mendiang mertuaku.

Hatiku teriris. Dendam yang selama ini terpendam luruh. Hilang. Betapa ia sangat menyesal. Allah saja Maha Pengampun. Maka betapa sombongnya aku jika aku tidak memaafkan beliau. Dan lagi beliau sangat mempercayaiku, bahkan saat aku bukan lagi menjadi menantunya. 

Tanggal 28 pagi aku sampai di rumahnya. Mantan istriku sangat terkejut. Wajahnya pucat pasti. Dia menyalamikku. Menyapaku, tetapi aku diam. Kemudian aku pergi ke rumah tetangga.

Aku pun kembali dikejutkan hal-hal yang tidak kuduga sebelumnya. Seluruh tetanggaku langsung berbondong-bondong menemuiku.

"Sabar ya Om. Bekas istri ada, tetapi tidak ada bekas anak," itu ucapan salah satu tetangga.

Dan semua tetanggaku menceritakan yang sama seperti yang diceritakan Yono sahabatku, bahwa mendiang mertuaku benar-benar mencariku. Terus mencariku hendak meminta maafku juga menyerahkan putraku.

Sesak dada ini begitu mendengar detik-detik kematiannya pun masih sempat memanggil namaku. 

Setelah itu, aku datang ke makamnya. Aku maafkan semua, bapak. Engkau memang bukan bapak kandungku, tetapi jiwamu mulia Pak. Selamat jalan bapak. Andai engkau masih hidup, dengan pintu terbuka kusambut engkau bapak. Anakku sudah memaafkanmu Pak. Semoga engkau damai di syurga sana. 

Kelak, insya Allah anakmu akan mengunjungi tempat peristirahatan terakhirmu lagi. Dan anakmu bukan tanggung jawabku lagi. Maafkan aku, mungkin aku tidak bisa mendidik anakmu Pak.

"Selamat jalan Bapak. Selamat jalan! Semoga Allah menjemputmu dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya."

Thursday, July 5, 2012

Aku Ingin Jadi Sakti dan Disayang Orang

Akibat senang nonton film-film silat Indonesia, aku aku ter-mindset untuk menjadi sakti seperti Barry Prima, seperti Wiro Sableng, dan pendekar-pendekar lainnya. Kebal rasanya hebat. Sakti rasanya kondang. Alangkah bangganya kalau aku menjadi orang yang sakti mandraguna.

Kala malam hari aku kadang menghayalkan andaikan aku bisa menolong orang dengan kesaktian yang aku miliki. Terlebih lagi aku memang senang berkelana sejak kecil. Melihat orang berkelahi sudah biasa, apalagi kalau di orkes dangdut. Aku juga termasuk salah satu penonton yang senang joget. Makanya aku pun harus sakti untuk jaga diri. Aku harus kebal agar tidak mempan jika dibacok.

Awal memasuki kelas 3 SMP, setelah melalui perenungan panjang, aku putuskan untuk belajar ilmu kanuragan. Aku putuskan untuk belajar ilmu kesaktian, agar kebal, dan juga ilmu pengasihan. Wow.... hebatnya aku jika aku sakti, kebal, dan disayangi orang.

Aku mencari guru yang menurut hebat. Beliau mengajariku dua jenis ilmu, ilmu kebal dan ilmu pengasihan. Seluruh mantra dituliskan, dan syarat-syarat apa yang harus aku lakukan pun diberitahu semua. Salah satu syaratnya adalah tirakat puasa Senin dan Kamis, yang dimulai sejak maghrib sampai maghrib lagi selama 40 Senin dan 40 Kamis.

Puasa dimulai hari Senin, kebetulan kalau orang Jawa percaya dengan weton dan hitung-hitungannya, termasuk keberuntungan dan sebagainya. Meskipun aku tidak percaya dengan hitung-hitungan itu, tetapi karena kemauanku sangat kuat untuk meraih apa yang aku inginkan, aku pun mencoba meyakini.

Awalannya sangat berat. Aku lupa tanggalnya, tapi waktu itu hari Minggu sore. Setelah ashar, aku sudah mandi keramas, kemudian sudah makan. Setelah ashar itulah aku memulai ritual. Sejak ashar aku tidak boleh kena emperan rumah sekalipun, apalagi kok sampai masuk. Dan sampai esok maghrib aku juga tidak boleh tidur walau sedetik.

Sejak ashar aku pun jalan-jalan. Malam itu hujan sangat lebat. Dan syarat berikutnya adalah aku harus mandi tujuh sumur tua. Aku memilih sumur-sumur angker milik tetanggaku. Di setiap sumur aku harus mandi 7 timba. Tepat sumur keempat, aku terkejut bukan main. Ditimba ke-5 aku menengok ke pagar sumur. Di situ ada pocong yang menempel di pagar. Aku ingin teriak, ingin lari, tetapi karena saat mandi pun aku tidak boleh ketemu siapapun, dan diketahui siapapun, juga jika aku lari, otomatis batal, aku tahan semampuku. Begitu sudah 7 timba aku langsung bergegas pergi.

Tepat jam 12 malam, di tengah hujan yang sangat lebat dan dalam kondisi kedinginan, aku membakar kemenyan di tengah-tengah halaman depan rumah. Aku baca semua mantranya.

Selang satu minggu, ibarat senjata yang sedang diasah, aku pun merasakan. Aku yang tukang ngarit waktu SMP itu, aku tidak pernah luka, meskipun kena sabit. Cewek-cewek pun melirikku. Ah, aku laris.

Saat aku lulus SMP, baru aku jalankan 10 Senin dan 10 Kamis. Sejak lulus SMP aku pergi berpetualang, mengelana ke ibukota, jadi kuli bangunan. Saat jadi kuli itulah aku kenal seorang gadis yang bernama Rohyati. Dia asli dari Tegal. Aku naksir sama dia. Ternyata dia juga jatuh cinta padaku. Mudah sekali aku menaklukkannya. Saat aku ngomong cinta sama dia, langsung diterima, padahal aku hanyalah seorang kuli bangunan, dan dia seorang pelajar. Cantik dan banyak yang suka, tapi dia memilihku.

Dasar playboy kampung (dulu lho ya, sekarang gak), aku pun merasa tidak cukup mempunyai 1 pacar. Aku pun mencari mangsa lagi. Aku kenal lagi dengan seorang gadis cantik. Ia mojang Cianjur. Namanya Nengsih. Nengsih lebih cantik dari Rohyati. Aku pun tembak. Tanpa perlawanan sama sekali, ia pun jatuh hati padaku. Saat kerja, bosku pun sangat sayang padaku, aku sering diberi uang olehnya.

Aku tidak ingat sudah berapa Senin dan Kamis aku jalani, tiba-tiba aku dengar dari pengajian bahwa puasa itu dilakukan sejak fajar hingga tenggelamnya matahari, dan selain itu tidak boleh, haram. Mendengar itu aku pun berhenti. Aku takut pada Tuhan. Aku takut pada Allah SWT.

Saat berhenti itulah semuanya berubah. Bosku jadi mudah marah-marah. Jangankan memberiku uang, tiap hari dibentak-bentak iya, apalagi kalau menurutnya kerjaku tidak benar. Tanpa diduga, kedua pacarku, Rohyati dan Nengsih sama-sama mencariku, dan mereka ketemu temanku. Setelah tanya, temanku menjawab bahwa Rohyati, pacarku, pun mencarinya.

Akhirnya keduanya ketemu karena mencariku. Kebetulan waktu itu aku ada di lantai dua bangunan Pasar Malabar, Perum Karawachi, Tangerang. Keduanya bertemu. Dua-duanya adu mulut. Mereka memperebutkanku.

Aku bingung. Mereka berdua mendatangiku, dan memintaku memilih di antara satu. Aku bingung. Aku cinta sama Nengsih, tapi aku tidak tega sama Rohyati. Bingung, poloku semplok rasane. Aku harus bagaimana.

Akhirnya mereka pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Aku pun segera menyusul ke rumahnya Rohyati. Aku bilang bahwa aku dan Nengsih hanya teman biasa. Rohyati pun menangis. Ia minta putus. Kupikir tidak apa-apa, toh masih ada Nengsih.

Aku pun datang ke Nengsih. Aku pun bilang kata-kata yang sama. Dengkulku terasa lemas manakala mendengar jawaban Nengsih bahwa dia muak padaku. Aku diputus.

Dua-duanya memutuskanku, bosku marah-marah, aku juga kestrum listrik yang kabelnya lecet. Hampir mati. Dan patahlah hatiku.

Ternyata, apa yang aku lakukan dengan "menjadi sakti" dan "menjadi mudah disayangi" itu hanyalah fatamorgana. Kini aku paham bahwa menjadi "sakti" tidak bukan berarti memiliki kanuragan yang hebat. Menjadi sakti adalah menjadi orang yang bijak, orang yang mengerti, orang yang bisa menempatkan diri, orang yang rendah hati, dan orang yang bertakwa. Menjadi orang yang disayangi adalah bukan dengan ilmu pengasihan, tetapi memberikan kasih sayang tulus pada orang lain. Jika kita berikan kasih sayang yang tulus pada orang lain, maka Allah Yang Maha Pengasih itu pun akan mencurahkan kasih sayang-Nya pada kita melalui orang-orang yang menyayangi kita.

Jadi, kenapa kita mesti takut tidak menjadi sakti karena tidak punya ilmu kanuragan, atau pun takut menjadi terasing karena tidak mendaptkan kasih sayang. Jadilah diri sendiri. Jadilah pribadi yang menarik bagi orang lain, jadilah pribadi yang tidak diganggu orang lain, maka kita pun akan sakti dan dikasih-sayangi oleh orang lain.

Tidak percaya? Buktikan.

Wednesday, July 4, 2012

Aku Menangis Saat Damarwulan Dihajar

Bapakku memang seorang pemain ketoprak, meski bukan pemain ketoprak profesional, tetapi kala itu bapakku ibarat artis sinetron yang sangat terkenal. Saat itu sebetulnya bapak sudah punya anak dua, aku dan adikku, tetapi aku tidak tahu kenapa banyak gadis-gadis yang tergila-gila pada bapakku. Memang bapakku tampan, seperti aku kini (bebek silem lagi....).

Saat ada acara hajatan dan tanggapannya ketoprak, bapak seringkali diundang. Karena memang bapak senang seni, dan aku bilang juga seniman, bapak berangkat, ke manapun undangan datang. Bapak tidak lagi mempertimbangkan apakah akan dibayar dengan bahyaran besar atau tidak, tetapi yang pasti bapak merasa bahwa jiwa seninya tersalurkan.

Ketoprak pun tidak hanya dipentaskan saat orang hajatan saja, tetapi juga setiap hari raya. Di kampungku, Sidakaya, kala itu. Aku masih kelas 1 atau kelas 2 SD saat itu, bapak sudah menjadi salah satu pemain andalan, mungkin kalau di film atau di sinetron bapak sebagai pemeran utama.

Badan yang tidak tinggi besar, tapi cukup ideal, ia ditunjuk sebagai pemeran pemuda-pemuda tampan, seperti Damarwulan ataupun Subroto.

Hari Raya Idul Fitri tahun 1987, aku lupa bulannya, tetapi sebagai hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam, terlebih lagi pasti akan selalu meriah, bapak pun mulai aktif bermain ketoprak sejak pertengahan puasa. Ketoprak dipentaskan di tobong (semacam pusat teater). Seluruh penonton ditarik karcis sebesar Rp. 100,-, mungkin kalau hari ini sekitar 10 ribu rupiah, dan itu hanya berlaku satu sesi saja, sekitar 15 menit. Setelah itu penonton keluar lagi. Para pemain pun rehat sejenak, baru pentas lagi setelah penonton masuk kembali, tentu dengan membayar lagi.

Karena sebagai anak dari pemain inti dari ketoprak itu, aku tidak dipungut biaya, bahkan aku berkumpul dengan para artisnya. Mereka gagah-gagah dan cantik-cantik dengan pakaian tradisional mereka. Aku akan jadi ketoprak kelak kalau sudah besar, itu pikirku.

Malam itu, bapak berperan sebagai Damarwulan. Alur ceritanya aku tidak tahu pasti, karena sebetulnya bukan alur ceritanya yang aku nikmati, tetapi gamelan juga penampilan para pemainnya yang memukau. Suasana yang mencekam.

Bapakku sangat tampan dengan pakaian tradisionalnya saat memerankan Damarwulan. Aku pun terkesima melihat ketampanan bapakku. Saat kelir dibuka, dan bapak pun keluar, penonton riuh, memanggil-manggil nama bapakku, ada juga yang memanggil Damarwulan. Aku dengar sebagian bilang, "Damarwulan, kamu ganteng banget!"

Entah bagaimana plot atau alur ceritanya, yang aku tahu bapak tiba-tiba dipukuli dengan dahan dan daun kelor. Sang pasangan, aku tidak tahu siapa, yang pasti seorang cewek yang sangat cantik, menangis sejadi-jadinya saat Damarwulan dipukuli. Seluruh penonton pun diam seribu bahasa. Sebagian ada yang menangis. Tak terasa air mataku pun ikut meleleh. Itu bukan karena menangisi Damarwulan yang dipukuli, tetapi melihat bapakku yang dipukuli. Aku merasa kasihan.

Seketika itu pula, aku lari ke dalam panggung, teriak-teriak, "Jangan pukuli bapakku!"

Seluruh penonton terhenyak. Kelir pun ditutup. Dan bapakku pun menggendongku. Beliau bilang, "Ini ketoprak Nak. Bapak tidak sakit kok. Bapak nanti dapat bayaran," sembari mengelus rambutku.

Aku terus terisak, tidak sepatah kata pun terucap. Yang aku rasakan adalah aku tidak rela bapakku dipukuli. Aku sangat menyayangi bapakku. Siapapun tidak boleh memukuli bapakku.

Kini aku benar-benar paham bahwa itu adalah sandiwara. Ya, sandiwara. Bapakku memang pintar bersandiwara saat beliau memerankan peran tertentu dalam ketoprak, tetapi dalam dunia nyata, bapakku adalah seorang pribadi jujur yang aku sangat bangga padanya.

Jika dulu aku tidak rela bapak dipukuli di dalam ketoprak, kini aku tidak rela siapapun menyakiti bapakku. Aku bangga padamu Pak. Engkau pria terhebat yang aku temukan sepanjang hidupku.

Hadiah Ulang Tahun Terkonyolku

Aku bukan termasuk perokok berat waktu itu, tetapi memang aku suka merokok. Bukan karena kebanyakan duit, atau karena sudah kencanduan. Merokok bagiku adalah satu kegiatan yang bisa membuatku tampil lebih percaya diri. Selain itu dengan meroko aku nampak aku bisa mengkhayalkan banyak hal, khususnya untuk mencari inspirasi.

Selama kehidupanku di Pondok, aku senang mencuri-curi kesempatan untuk bisa merokok bersama para gengku. Gendon adalah mitra sejatiku untuk merokok. "Pencurian" benar-benar bisa membuat jantungku berdebar sekaligus bangga. Berdebarnya jika ketahuan Ketua Yayasan, pasti aku akan kena tampar sampai bibirku berdarah, meski aku sendiri belum pernah ditampar. Bangganya apabila aku bisa merokok dan tidak ketahuan. Jika ketahuan bisa bahaya.

Ada satu kisah, adik kelasku, Manto namanya. Ia termasuk berandalan kecil. Kebetulan ia satu kampung juga denganku. Badannya yang kecil, suaranya yang melengking, dan polahe yang pethakilan gak karuan, teman-teman dari Jawa Timur menyebutnya ethes. Karena nakalnya bukan main, ia merokok malam hari di sekitar pondok. Kebetulan ia dapat jatah jaga malam.

Ia tidak sadar bahwa pas jatahnya jaga malam, tanpa sepengetahuannya ketua yayasan keliling juga, mengecek jangan-jangan anak-anak yang jatahnya ronda malam tidur.

Dengan bangganya Manto ini merokok tanpa ekspresi takut atau apapun, karena dia yakin tidak mungkin ketua yayasan akan mengetahui perilakunya ini. Ketika sedang asyik-asyiknya merokok, rokok dalam kondisi menyala di tangan, dan sebagian yang masih ada di dalam bungkusan ditaruh di kantong baju bagian depan.

Tiba-tiba ketua yayasan yang bertubuh tinggi besar lagi menyeramkan berdehem, "Hmmmm.... hmmm...."

Terkejut bukan kepalang, Manto bukan segera mematikan rokoknya justru malah membuangnya tetapi ia sempat menghisap. Ia pun menutup mulutnya yang penuh dengan asap rokok.

"Kamu merokok To?" tanya ketua yayasan.
"Gak pak," sambil membuka mulutnya yang penuh dengan kepulan asap rokok.
"Plak!" tamparan keras mendarat di bibirnya. Berdarah.
Ketua yayasan pun langsung mengambil bungkusan rokok yang ada di kantong bajunya sembari bertanya, "Ini apa?"
"Bukan apa-apa Pak," jawabnya singkat.
"Plak!!" tamparan kedua mendarat lagi di pipinya.

Keesokan harinya Manto dengan kondisi bibir pecah, dan sedikit mengsol karena sulit bicara, ia bercerita kepada kami. Serasa perut dikocok-kocok, kami terpingkal-pingkal sampai air mata mengalir.

Nurlela, temanku satu kelas mendengar cerita itu, dan ia pun mendekat.
"Kamu merokok juga?" sambil menatap ke arahku.
"Iya Nur. Tapi jangan bilang-bilang ya," pintaku pada Nurlela.
"Tenang saja," jawab Nurlela singkat dan kemudian beranjak pergi.

Aku tidak ingat bahwa waktu itu adalah tanggal 30 September dan besoknya adalah tanggal 1 Oktober, hari ulang tahunku. Ia pun sepertinya menyimpan sesuatu untuk dipersiapkan, tetapi aku tidak tahu sesuatu itu apa.

Keesokan harinya, Nurlela pun mengajakku ke toilet. Kupikir ada apa, kok tumben-tumbenan dia mengajakku ke toilet. Dia bilang ada sesuatu untukku yang spesial.

Dengan hati berdebar, aku pun mengikutinya menuju ke toilet. Dia masuk dan aku pun diajak masuk. Tambah deg-degan, mau ngapain ini cewek pikirku.

"Tenang sob, aku hanya ingin memberi sesuatu untukmu," kata Nurlela sambil menyodorkan bungkusan kado.
"Apa ini?" tanyaku.
"Pokoknya spesial buat kamu," jawabnya.

Penasaran, aku tidak langsung balik ke dalam kelas, tapi bungkusan kado itu langsung aku bawa masuk ke kamar pondok. Dag dig dug hati berdebar.

Ku buka pelan-pelan apa isinya. Hati-hati sekali. Aku berpikir Nurlela pasti menaruh hati padaku.

Mataku terbelalak manakala bungkusan kado itu sudah aku buka.
Apa isinya coba? Satu slop rokok Minak Djinggo Kretek.

"Wah kurang ajar ini si Nurlela," pikirku dalam hati. Tetapi lumayanlah. Maklum anak pondok gak pernah pegang uang.

Seluruh genk perokokku aku kumpulkan di kebun singkong di daerah perkebunan anak-anak pondok. Aku bawa satu bungkus. Kami pun merokok. Nikmat bukan alang kepalang, apalagi ditambah nyolong kelapa muda milik tetangga kebun. Wah tambah semangat.

Aku pun menghabiskan 4 batang rokok Minak Djinggo itu.

Sayang seribu sayang, bukan akhirnya menikmat sedapnya rokok Minak Djinggo, tetapi justru mabok setengah mati. Aku muntah-muntah merokok itu. Aku kapok merokok kretek lagi setelahnya.

Dasar Nurlela gila. Masa rokok kretek diberikan pada anak muda.

Monday, July 2, 2012

Gara-Gara Layar Tancap Aku Digundul

Kehidupan dan rutinitas di Pondok Pesantren Subulussalam sangat ketat. Dan itu selalu monoton, berulang dan berulang terus. Jenuh. Iya. Aku merasakan kejenuhan yang teramat sangat. Terlebih lagi aturan lain-lain yang juga sangat ketat, termasuk hiburan.

Seluruh santri dilarang menonton televisi, mendengarkan radio, ataupun hiburan lain. Yang ada kami adalah harus belajar, belajar, dan belajar, baik belajar ilmu agama maupun belajar ilmu di sekolah formal.

Aku termasuk salah satu santri yang patuh. Aku termasuk salah satu santri yang patuh. Seluruh kegiatan aku ikuti dengan rajin dan senang hati, walau sebetulnya aku merasakan kejenuhan, tetapi bukan termasuk santri yang nakal.

Namun sebetulnya aku juga nakal. Nakalku adalah bahwa aku sebenarnya sebelum masuk pondok sudah kenal rokok. Inilah kenakalanku. Aku mencuri-curi merokok. Salah satu sahabat karibku perokok adalah Gendon. Dia temanku satu kelas yang juga sebagai lurah pondok waktu aku kelas 3.

Pernah suatu kali, gerembolan perokok yang sudah berkomplot merokok bareng. Ada lima orang yang sama-sama komplotan merokok bareng, aku, Panji, Gendon, Dayak, dan Kholik. Kami menyepakati merokok di kamar mandi belakang pondok yang sudah tidak dipakai. Satu batang rokok bergiliran. Dan memang ternyata inilah yang menyatukan visi dan misi kami.

Sedang asyik-asyiknya merokok, tiba-tiba kami melibat bayangan berkelebat. Seketika itu, yang ada di otak kami melihat teman-teman tidak ada rambut di kepalanya. Gundul. Karena itulah hukuman bagi perokok. Jika ketahuan digundul, dan yang lebih parah lagi ditampar sampai darah menetes. Takut sekali. Ternyata ia adalah Ato. Dia bukan perokok, tetapi dia tidak termasuk blok timur atau blok barat, dia masuk ke kelompok non blok alias netral. Dia tidak akan mungkin melaporkan pada lurah pondok.

Tanpa disangka ia langsung berucap, "Wow.... lagi pada konggres!" Tanpa ekspresi langsung pergi. Sejak itu hingga kini aku dan kawan-kawan mengatakan konggres kalau sedang merokok.

Kembali ke masalah hiburan. Di lingkungan pondokku, zaman itu memang lagi ramai-ramainya orang nanggap layar tancap jika hajatan. Selain murah meriah juga termasuk berteknologi. Keren juga. Pokoknya kalau siangnya mendengar mercon meletus berkali-kali, maka bisa dipastikan malamnya ada layar tancap.

30 September 1997, tepat di peringatan G30S/PKI aku mendengar letusan mercon berkali-kali. Aku sudah sangat yakin pasti nanti malam ada layar tancap. Dan letusan mercon itu bersumber dari tiga tempat yang berbeda, berarti ada tiga tanggapan layar tancap.

"Ah tidak akan pernah juga nonton lancar tancap," pikirku. Dan aku pun mengabaikan begitu saja.

Malam harinya, selepas ngaji di pondok, aku, Kholik, dan Toni pamitan pada Pak Lurah Gendon untuk main ke tempat Edwin, temanku sekelas yang tidak tinggal di pondok. Kami ada perlu di sana. Dan kami pun diizinkan.

Setelah urusan selesai, kami pun pamitan pulang. Dasar bocah-bocah kampung yang tidak pernah dapat hiburan, Kholik pun tergoda untuk menonton. Ternyata Toni pun ikut sepakat. Hanya aku yang sepakat. Aku mau pulang tapi aku tidak tahu jalannya, yang tahu jalannya adalah Kholik.

"Wis toh pokoke kowe melu wae," kata Kholik.
"Tapi aku takut digundul," jawabku.
"Gak apa-apa, kita kan sudah pamitan mau ke rumah Edwin," sahut Toni.
"Yo wis manut," sahutku.

Tetapi sebetulnya aku pun deg-degan. Aku tetap tidak tenang. Biasanya firasatku tidak meleset bahwa ini akan menjadi kasus.

Sampai di tempat tontonan, film kedua baru diputar. Aku ingat betul filmnya, judulnya pun sampai hari ini ingat. Dan film itu pula yang menjadi film favoritku sepanjang masa, "TAI CHI MASTER."

Selama nonton film aku terlena, terlena dengan cerita film. Aku terhanyut. Tapi tetap saja khawatir aku ingat digundul.

Film selesai diputar, aku pun langsung mengajak pulang. Tetapi kedua sahabatku tidak mau pulang. Aku tetap memaksa utnuk pulang. Akhirnya merek menyerah.

Pulang ke asrama sudah cukup larut, sekitar pukul 23.30. Gerbang sudah dikunci. Tidak ada pilihan lain kecuali lompat lewat jendela.

Ternyata, blok lawan kami mengintai. Mereka mencatat semua yang nonton film.

Keesokan harinya, ternyata ada 8 orang yang menonton. Pihak-pihak blok lawan kami melaporkan kepada Ketua Yayasan. Ketua Yayasan pun langsung mengeluarkan keptusan akhir bahwa kami harus gundul plondos, bukan hanya gundul pakai mesin, tapi benar-benar gundul.

1 Oktober 1997, tepat di ulang tahunku yang ke-17 aku digundul. Kepalaku gundul plonthos gara-gara nonton layar tancap.

Semenjak itu, aku hanya satu kali tok nonton layar tancap. Aku kapok.

Linda, Kamu Memang Cantik!

Ini kisah cintaku. Memang bukan cinta pertamaku, tetapi cinta sejatiku yang pertama. Aneh ya? Gak juga. Karena ini berkaitan dengan perasaan yang aku rasakan benar-benar aku ingat dan kukenang.

Ini terjadi tahun 1995 lalu saat aku baru masuk SMA. Aku senang berpetualang sejak lulus SMP tahun 1994. Dan aku putuskan masuk SMA tahun 1995. Waktu itu namanya SMU. Karena jauh, orang tuaku di Cilacap, dan aku sekolah di Bogor, sementara aku tidak punya sanak keluarga, aku memutuskan untuk tinggal di pondok pesantren yang disediakan gratis bagi para siswa yang jauh dari luar daerah, Pondok Pesantren Subulussalam. Selain karena jauh, karena memang aku tidak bisa membaca Al Quran sama sekali. Jangankan membaca Al Quran, shalat pun aku tidak bisa, padahal ketika ditanya agama aku bilang bahwa Islam agamaku.

Jadwal kegiatanku sangat padat. Jam 3 pagi aku harus bangun dan shalat tahajud sekaligus menunggu waktu subuh. Setelah shalat subuh seluruh santri harus mengaji bersama ustadz, biasanya mengaji tilawah. Ngaji tilawah adalah kegiatan di mana salah satu santri membaca Al Quran, yang lain menyimak dan setelah itu menirukan. Nah di sinilah keringatku sebesar jagung-jagung manakala giliranku. Jagankan baca Al Quran, huruf hijaiyah saja aku tidak hapal. Aku malu pada teman-temanku yang masih SMP saja sudah sangat lancar membacanya.

Kegiatan selanjutnya adalah senam militer. Itu dilakukan sekitar jam 5.30 pagi sampai jam 6 pagi. Mandi adalah kegiatan berikutnya, disusul dengan sarapan. Jam 7 pagi sudah standby di kelas untuk menerima pelajaran. Jam 12 siang pulang sekolah. Dan rutinitas pondok pesantren mulai lagi. Setelah shalat dhuhur dan makan siang kami ngaji sampai asyar. Selepas asyar pembagian tugas, ada yang masak, ada yang pergi ke sawah, ada yang berkebun dan sebagainya hingga menjelang maghrib. Selepas maghrib ngaji lagi sampai jam 9 atau 10 malam. Dan sebelum tidur, kami makan malam dilanjutkan belajar. Dan kegiatan itu terus berlanjut setiap hari kecuali hari libur.

Jenuh sekali. Setres. Aku merasa sangat tertekan dengan rutinitas yang sangat menjemukan itu. Aku ingin sekali memahami agama, tapi kegiatan sangat jenuh. Kami tinggal di pondok yang dipagar tinggi. Tidak bisa ke manapun. Hidup kami dibatasi tembok selama 3 tahun.

Pernah suatu sore hari, setelah shalat asyar dan lurah pondok membagi tugas, tugasku adalah berkebun. Berangkat berkebun aku lewat depan kelas. Anak-anak SMP masuk sore hari. Aku sedikit bergaya karena anak-anak Bogor memang cantik-cantik. Saat lewat depan ruang F, aku terkesima. Darahku tersirap. Di depanku ada bunga-bunga indah. Kulihat seorang gadis yang mirip Nike Ardila, salah satu artis favoritku yang baru meninggal beberapa bulan sebelumnya. Ia memakai kacamata. Cantik sekali. Secara tidak sengaja tatapan mataku beradu. Ada perasaan aneh dari dalam diriku. Aku tiba-tiba merasa betah, merasa kerasan untuk tinggal di pondok.

Gadis itu sangat cantik di mataku. Lingkungan sekolah yang tadinya begitu membosankan tiba-tiba saja terasa begitu indah, bak istana dan taman-taman bunga. Di dalamnya ada bunga indah yang belum pernah membuat detak jantungku lebih cepat. Gadis berkacamata itu selalu terpikir dalam hatiku. Ia masih kelas II, tepatnya kelas II-B SMP di lingkungan yayasan tempatku sekolah. Tapi aku tidak tahu namanya.

Aku berpikir bagaimana caranya mengenalnya. Kerja di kebun tidak konsentrasi. Ngaji tidak konsentrasi. Belajar pun tidak konsentrasi. Wajah cantiknya betul-betul terus membayangiku. Siapa namanya gerangan, itulah pertanyaanku yang selalu menggelayut di pikiranku.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tidak dinyana tidak diduga, ternyata ada teman pondokku yang sekelas dengannya. Aku tanya namanya siapa. Namanya bagus sekali, Linda Novita. Ya, Linda Novita. Nama yang sangat indah kedengarannya.

Tapi bagaimana caraku mengenalnya? Aku tidak tahu apakah aku lugu atau nekad, atau bahkan gila. Tanpa pikir panjang, karena aku tidak bisa terus menyimpan perasaan ini, aku tunggu di jembatan di komplek sekolah kami. Sekolah kami dikelilingi sungai kecil, dan di situ ada jembatan kecil.

Pukul 17.00 pun datang. Aku tahu saat lonceng dipukul sebanyak 7 kali. Itu pertanda waktu pulang sore hari. Aku segera menyisir rambutku dengan tanganku. Pokokny senarsis mungkin aku dandan. Akan kucegat dijembatan ini dan kuajak kenalan.

Ya, dia lewat. Gadis cantik berkacamata itu lewat. Tanpa basa-basi, saat tepat lewat di depanku, aku langsung panggil, "Linda, boleh aku kenalan?" sapaku.

Terkejut. Ia pun mengulurkan tangannya menyalamiku sambil malu-malu. "Linda Novita," jawawnya singkat.

"Maaf aku harus pulang, takut gak ada angkot ya?" dia ngeloyor pergi sebelum aku sempat menyebut namaku.

Aku puas. Aku pun pulang ke pondok. Aku menjadi sangat-sangat betah. Aku tidak lagi ingin pulang. Aku cinta sekolahku. Aku cinta pondok pesantrenku. Ya, aku cinta Linda Novita. Itu terus saja terbawa mimpi.

Seminggu kemudian, setelah kupikir masak-masak, aku cegat lagi di tempat yang sama aku ajak kenalan. Aku tidak tahu apakah karena keluguanku, atau kebegoanku, aku juga tidak tahu, tanpa proses pendekatan terlebih dahulu aku langsung cegat dan bilang, "Linda, I love you."

Tanpa menjawab, ia pergi begitu saja. Tapi aku lihat di wajahnya betapa ia terkejut mendengar uangkapan itu.

Itu terus aku lakukan hingga sepuluh kali. Tidak ada jawaban. Selalu dengan tindakan sama. Aku tahu itu adalah perasaan cinta dan sayang padanya begitu dalam. Aku mencintai dia. Aku tidak tahu caranya agar dia mau menjadi pacarku. Yang aku tahu adalah bahwa aku mencintainya dan aku katakan padanya dengan caraku waktu itu. Sepuluh kali kulakukan serupa tidak ada jawaban. Aku malu juga.

Tapi aku tidak pernah menyerah. Itu bukan tipeku, pikirku dalam hati. Aku harus mendapatkan hatinya walau sebentar. Gerilya pun dilakukan. Aku menulis surat. Aku menulis ungkapan perasaanku sedemikian rupa. Aku bukan pujangga, bukan pula sastrawan. Aku hanyalah anak kampung yang sekolah jauh di kota. Aku tuliskan semua yang aku rasakan.

Sekali tidak dibalas. Mungkin saja dia tidak sempat, pikirku. Aku kirim lagi yang kedua. Hal sama pun terjadi. Tidak ada balasan. Aku pun berpikiran sama. Hingga tujuh kali. Itu terjadi hingga aku hampir naik kelas 3 SMA. Aku menyerah. Tetapi aku masih saja tetap menginginkannya. Aku mencintainya.

Ia lulus SMP dan sekolah di sebuah SMEA baru di kecamatan lain. Pernah satu kali kulihat dia memakai seragam abu-abu putih. Hmmmm.... tambah cantik dia di mataku. Tapi ia tidak mau.

Hingga pada satu waktu, saat aku kelas III SMU aku harus menggantikan guru bahasa Inggris dan Matematika kelas 1 SMP. Mereka semua cuti hamil. Aku tidak pintar kedua pelajaran itu, tetapi pihak sekolah memintaku untuk menggantikan sementara. Aku ngajar kelas 1 SMP pelajaran matematika dan bahasa Inggris setiap aku pulang sekolah SMU. Kadang aku belum ganti baju, aku masuk kelas. Aku ngajar.

Di salah satu kelas yang aku ajar, di situ ada seorang gadis yang putihnya sama dengan Linda, dan ada juga kemiripan dengan Linda, bedanya di giginya. Kalau Linda giginya gingsul, adiknya ini gingsul keluar, semuanya. Aku panggil dia. Namanya Siska.

Aku tanya siska rumahnya di mana dan sebagainya. Karena aku berkepentingan dengan Linda, aku pun telah mendapatkan semua data yang aku butuhkan untuk investigasi. Dan aku pun melakukan yang sama kepada Siska. Dan ternyata Siska adalah adiknya Linda. Ini kesempatan terakhirku. Tetapi rasanya tidak mungkin aku sampaikan perasaan ini pada Siska.

Hingga pada bulan Juni 2012, saat aku di perpustakaan dan Siska datang ke perpustakaan, aku sudah siapkan surat terrakhir untuk Linda. Aku katakan terakhir karena kupikir itu memang benar-benar terakhir untuknya. Aku katakan bahwa aku sudah selesai SMA dan aku akan pulang kampung membantu bapakku macul di sawah. Aku minta maaf telah mengganggunya. Kalau tidak keberatan aku minta dia membalas suratku.

Yang sebenarnya adalah bahwa aku melanjutkan belajarku di Semarang. Aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang. Aku diterima di jurusan favorit di perguruan tinggi itu, Sastra Inggris. Tapi aku katakan aku akan membantu bapakku mencangkul di sawah.

Tanpa disangka tanpa diduga ia membalas suratku. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa ia menyatakan menerimaku. Ia katakan bahwa batu yang keras saja akan hancur bila ditetesi air terus menerus, apalagi hatinya. Pyar.... dunia terang benderang. Cintaku terbalas kawan.

Saat itu aku baru saja OSPEK. Liburan semester masih lama, masih 4 bulan lagi. Aku ingin menggulung waktu agar aku bisa segera apel ke Bogor. Aku ingin ketemu Linda, gadis pujaan hatiku. Ia begitu istimewanya di hatiku. Waktu kulalui begitu lambatnya. Tetapi yang pasti semangat belajarku luar biasa. Dan nilai betul-betul tidak mengecewakan. Indeks prestasiku 3.1 waktu itu. Bangga sekali.

Liburan semester aku langsung datang ke sekolahannya. Aku temui gurunya dan aku katakan padanya bahwa aku ingin ketemu Linda. Barangkali gurunya pernah muda juga, dan aku pun dizinkan. Di sinilah titik puncak kebahagiaanku, bertemu dengan gadis pujaanku dengan seragam abu-abu putihnya. Cantik sekali. Cantik luar biasa bak bidadari dari surgaloka. Dunia milik berdua.

Esoknya pun aku apel ke rumahnya. Bahagia sekali. Orang tuanya pun menyambut gembira, kecuali bapaknya. Bapaknya cuek bebek. Ampun masamnya wajahnya.

Waktu pun terasa begitu cepat, dan liburanku sudah selesai. Aku harus kembali belajar lagi di Semarang untuk semester 2. Aku belajar. Konsentrasiku agak buyar. Yang ada di otakku bukan pelajaran tetapi Linda.

Mei 1999, saat libur kampanye pemilu, aku langsung melesat cepat ke Bogor, ketemu pujaan hatiku. Aku dandang lebih rapi. Dengan naik angkot aku langsung merapat ke rumahnya.

Kuketuk pintu, dan ibunya menemuiku. Aku tanyakan apakah Linda ada. Linda pun keluar dengan memakai kaos putih dan rok abu-abu. Bidadariku tetap cantik walau apapun yang ia kenakan. Aku bilang rindu setengah mati.

Satu jam kami ngobrol berdua di ruang tamu. Linda terasa aneh. Ia diam seribu bahasa. Aku desak ada apa. Ia pun tetap diam dan hanya menjawab tidak ada apa-apa. Hingga akhirnya aku katakan padanya, "Lin, kalau memang tidak cinta, katakanlah."

Akhirnya Linda pun buka mulut, "Maaf ya, aku sudah dijodohin."

Aku tidak tahu, tiba-tiba petir menggelegar. Dunia berputar. Mataku berkunang-kunang. Aku tidak percaya rasanya. Hancur luluh dan berkeping-keping hatiku saat itu. Tanpa basa-basi aku langsung pamitan. Seluruh tulang belulangku terasa hancur. Aku tidak bisa jalan. Aku langsung pulang ke Semarang. Badanku kurus, bukan karena tidak punya uang untuk makan, tapi karena memang gak enak makan.

Di semester 3 aku terus memikirkannya. Nilaiku terjun bebas. Yang sebelumnya indeks prestasiku 3.0 kemudian turun bebas menjadi 1.0. Hancur!

Hingga sejak itu aku pun tidak pernah pacaran lagi. Aku berpikir bahwa perempuan selalu menyakiti, walau hatiku pun tetap terpatri nama Linda sampai kini. Linda Novita, mojang Bogor yang sangat cantik.

Hingga kini aku tidak pernah ketemu lagi. Aku tidak tahu lagi kabarnya sekarang. Yang jelas, Linda tetaplah cantik. Linda 17 tahun yang lalu tetap hidup. Ia tetap ada. Linda Novita gadis cantik yang pernah mengisi hatiku. Ia bukan cinta pertamaku, tetapi cintaku pertama yang tulus pada perempuan. Ya Linda Novita.

Aku yakin kini engkau telah punya keluarga dan bahagia. Semoga.

Terima kasih pernah mengisi hatiku. Terima kasih pernah menjadi bagian dari kenangan indahku. Semoga Tuhan selalu memberkahi hidupku.

Sunday, July 1, 2012

Es Lilinku Manis, Es Lilinku Laris

Saat jam istirahat sekolah, waktu aku masih SD kelas V, aku merasa ngiler saat teman-temanku berhambur keluar kelas dan lari ke warung jajanan Nini Belor. Mereka dengan bangganya mengeluarkan uang recehan Rp. 25,- sampai Rp. 50,- untuk membeli gethuk goreng yang sangat menggiurkan untuk dilahap. Tanpa basa-basi, begitu gethuk goreng sudah di tangan disantap tanpa ampun oleh teman-temanku. Aku hanya bisa melongo. Ngiler.

Sejak kecil aku memang tidak terbiasa jajan. Aku malu untuk jajan. Jika pun punya uang jajan akan selalu utuh. Aku tidak terbiasa jajan. Malu. Tetapi sebetulnya malu itu hanyalah alasanku menghiburku agar aku tidak jajan. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa aku tidak pernah punya uang saku. (Jangan bilang-bilang ya.... aku kan malu).

Satu ketika aku beride bagaimana caranya aku bisa seperti teman-temanku, yang begitu gagahnya segera merapat ke warung kebanggaan mereka untuk menikmati gethuk goreng favorit mereka. Untuk minta uang pada orang tuaku adalah hal yang tidak mungkin. Kondisi yang tidak memungkinkan. Kalau aku cerita kondisi orang tuaku yang miskin, aku rasanya tidak tahan meneteskan air mata. Ngrentes. Intinya aku beritahu bahwa orang tuaku tidak mampu memberiku uang saku. Untuk uang SPP sebesar Rp. 150,- per bulan saja sering telat. Nlangsani ya? Oh tidak! Aku bangga punya orang tuaku yang "super kaya" itu.

Ngobrol-ngobrol sama kawan akrabku, yang sebetulnya adalah kawan gelutku. Mungkin kalau zaman sekarang aku sama dia ibarat Tom and Jerry. Dan kini aku punya teman yang sampai saat ini kawan-kawanku memanggilku dan dia Tom and Jerry juga, sahabatku Abdul Basir dari Tegal. Tapi, Tom and Jerry di sini bukan aku dan Tom Basir, tetapi aku dan Mang, panggilan akrab sahabatku itu. Aku dan dia bersengkongkol untuk merencakan makar bagaimana bisa makan gethuk goreng yang selalu menggiurkan lidah kami di sekolah itu. Kami mau berkomplot untuk ngutil gethuk goreng itu. Ah itu bukan ide cemerlang. Kalau ketahuan bisa berabe.

"Terus bagaimana caranya agar kita tidak ketinggalan zaman seperti mereka?" tanya Mang.
"Tidak ada solusi lain kecuali minta sama mereka," sahutku.

Wakijan, salah satu temanku yang super setia kawan mendengar rencana kami. Dia duduk di sampingku.

"Kalian pengin gethuk goreng?" tanyanya membuka percakapan.
"Iya!" jawab aku dan Mang serempak.

Kemudian Wakijan merogoh kantong celana merah yang sudah sedikit berwarna kelabu. Maklum ia beli sudah dua tahun lalu. Dari dalam kantongnya bungkusan plastik putih. Tanpa tanya jawab, aku langsung tahu bahwa yang di dalam plastik putih itu adalah gethuk goreng idaman. Gethuk itu langsung dicuil-cuil menjadi tiga bagian. Kami pun akhirnya makan. Ah nikmat. Terima kasih kawanku, Wakijan. Aku tidak akan pernah lupa kebaikanmu, kebaikanmu 23 tahun yang lalu.

Kembali ke masalah gethuk goreng. Aku benar-benar telah terpesona oleh nikmatnya gethuk goreng Nini Belor. Lezat luar biasa. Makan gethuk goreng Nini Belor serasa makan pizza hut. Ah kok membandingkan pizza hut? Beli gethuk goreng saja gak punya uang kok ngomong pizza hut. Itu jika dibandingkan dengan zaman sekarang kawan!

Setelah makan gethuk goreng, kecerdasanku langsung muncul. Hmmmm.... apakah aku cerdas setelah makan gethuk goreng? Tidak juga. Aku cerdas memang dari sono (sedikit pamer ya? Hehehehhehe).

Ideku langsung muncul. Kalau digambar barangkali di atas kepalaku langsung ada gambar lampu bersinar.

Iya. Jualan es lilin. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak tahu. Tetapi aku harus mengaplikasikan ide ini. Aku dekati Borek, bakul es lilin yang mangkal di sekolahku. Aku tanya-tanya prosedur dagang es lilin. Dia cerita semuanya. Akhirnya diam-diam aku rekam semua data yang ia berikan. Akan ku-copy paste.

Satu minggu kemudian, hari Sabtu kebetulan tanggal merah. Aku dan Mang segera menyusun strategi. Bos lilin bernama Kedep. Tempatnya lumayan jauh dari rumahku, sekitar 5 km. Kami tidak mungkin jalan kaki. Kami naik sepeda untuk sampai ke kediaman Bos Kedep.

Sampai di Bos Kedep masih sangat pagi. Kami harus antri, karena para kompetitorku tidak hanya satu atau dua, tetapi banyak, lebih dari 10 dan sebagian besar berumur jauh di atasku. Tetapi aku tidak mau kalah.

Setelah mendaftar sebagai calon sales es lilin, aku pun diterima dan juga temanku Mang. Sebagai uji coba, aku diberi jatah menjual 30 butir es lilin. Standar harga dari Bos dipatok Rp. 15,- dan aku menjual seharga Rp. 25. Aku untung Rp.10,-. Jika 30 butir berarti aku bisa mengantongi Rp. 300,-. Wah banyak sekali. Bisa untuk beli gethuk goreng sampai wetenge bledos, pikirku. Tapi tidak, aku malu saat ditagih SPP oleh kepala sekolahku. Mendingan untuk bayar SPP.

Hari itu aku sukses besar, karena tidak butuh waktu sampai sore stok es lilinku sudah habis semua. Aku untuk Rp. 300,-. Bangga sekali. Aku laporan sama ibundaku tercinta. Ibuku bangga. Aku lebih bangga. Besok pagi aku akan menambah lagi, menjadi 50 butir. Dan besoknya pun sukses. Jadi dalam dua hari aku bisa mengumpulkan Rp. 800,-. Besar sekali. Hebat aku ya? Hehehehehehehehe....

Sejak itu aku rutin jadi bakul es lilin.

Tapi ada cerita sedih kawan. Suatu hari ada tontonan ramai sekali. Pagi aku mengambil 50 butir es lilin dan laris manis. Kemudian aku mengambil lagi 2 termos besar berisi 100 butir. Dan hal sama terjadi. Laris manis. Aku untuk Rp. 1.500,-. Besar sekali ya? Iya karena harga beras per kilogram waktu itu cuma Rp. 200,-. Berarti bisa beli beras 7,5 kg dalam sehari.

Aku dengan sepeda pancalku langsung ngebut pulang, meski kondisi hujan. Jantungku berdegub kencang. Aku segera laporan sama ibuku tentang sukses besarku hari ini. Tidak sadar, bahwa wadah uangnya tidak kutup rapat. Begitu sampai di rumah aku buka wadah uangnya. Uang hilang semua. Aku nangis sejadi-jadinya. Ibuku pun ikut menangis. Aku menangisnya karena bingung bagaimana aku harus setoran sama bosku. Setoran sebesar Rp. 2.250,-. Aku harus nempuhi (mengganti).

Ibu bilang, "Nak, ibu gak punya uang, tapi ibu akan gantikan. Sudah ya jangan menangis. Ibu akan cari pinjaman tetangga."

Ibuku sangat baik. Ibuku cari pinjaman dan dapat. Saat itu hujan lebat. Dengan kaki dan badan loyo karena kehilangan uang dan badan menggigil kedingan aku kayuh sepedaku menuju rumah bos. Tanpa mantel, tanpa payung. Basah kuyup. Aku laporan bahwa uang hilang. Tetapi bos tidak mau tahu. Ya, bos tidak mau peduli bahwa kala itu aku masih sangat-sangat lugu, kala itu aku masih sangat-sangat jujur. Bosku tidak bisa melihat sorot kejujuranku di mataku. Tapi tak apa, aku tetap ganti.

Sejak saat itu pun aku masih tetap berjualan setiap hari libur atau setelah pulang sekolah jika ada tontonan. Aku bisa membantu membiayai sekolahku sendiri. Itu aku lakukan hingga mendekati EBTANAS.

Kini 22 tahun telah berlalu. Aku masih ingat betul kejadian-kejadian itu. Aku bangga pernah menjadi bakul es lilin. Semua itu terinsiprasi oleh gethuk goreng Nini Belor. Setiap kali aku lewat depan SD-ku, aku selalu ingat semua kejadian itu. Aku ingat semuanya.

Kini semuanya itu indah sekali dikenang. Aku bangga pernah menjadi bakul es lilin. Aku bangga pernah bisa membayar SPP-ku sendiri dari hasil kerja kerasku sendiri. Aku bangga bisa menikmati gethuk goreng Nini Belor tanpa ngutil ataupun minta sama temanku. Kini kebanggaan itu aku simpan sampai kini, di dalam memoriku. Aku mencintai kehidupanku, yang sekarang indah untuk dikenang.

Tuesday, June 26, 2012

Aku Berkelahi: Demi Harga Dirikah?

Lucu jika aku ingat kejadian itu, kejadian di mana pertama kali aku berkelahi. Benar-benar berkelahi, gelut. Saat itu aku masih kecil, imut-imut, ganteng lagi. Hehehehehehehe.... (Bebek silem).

Saat aku baru lulus SMP tahun 1994, aku dengan gagahnya mencoba menaklukkan kerasnya ibukota. Datang ke Jakarta sebagai buruh, kuli bangunan. Tanpa basa-basi aku langsung melamar, mengajukan aplikasi menjadi seorang tukang aduk pasir dan semen di sebuah perusahaan yang namanya sangat keren, PT. Dwi Dara Putra Tama. Wow... keren sekali namanya.

Aku bekerja di sebuah perusahaan yang bernama PT. Dan itu sangat aku banggakan saat aku mengirim surat ke orang tuaku. Aku bilang bekerja di PT Dwi Dara Putratama. Bapak dan ibuku tahu bahwa aku bekerja di sebuah tempat yang bernama PT, tetapi beliau tidak tahu apa yang aku kerjakan. Tukang aduk.

Tiap hari aku harus mengaduk pasir dan semen, melayani tukang batu, dengan gaji yang sangat besar (menurut ukuranku waktu itu), Rp. 5.000,- per hari. Belum pernah aku mendapatkan upah sebesar itu. Belum pernah aku memiliki uang sebesar itu dalam sehari. Dan kini sejumlah uang yang cukup besar itu bisa aku raih hanya dalam satu hari.

Gaji diberikan setiap hari Sabtu, jika plus lembur ya cukup lumayan. Dalam satu minggu bisa mendapatkan uang sebesar Rp. 52.000,- - Rp. 60.000,-. Hmmmm... jumlah yang sangat besar.

Setiap hari Sabtu aku langsung meluncur ke Gedung Bioskop, satu-satunya Gedung Bioskop di Pasar Cikupa, Tangerang. Keren rasanya bisa nonton bioskop. Maklum di rumahku TV pun gak punya, kok tahu-tahu bisa nonton bioskop. Pengalaman luar biasa.

Untuk menghemat, saya memilih masak sendiri. Beli semua peralatan masak, ada panci, ada wajan, ada suthil, dan lain-lain. Wis pokoknya keren. Ingat waktu ikut pramuka, padahal kalau pramuka hanya kemahnya saja yang aku suka, kalau suruh latihan, apalagi menghapalkan sandi-sandi, semplok rasane poloku.

Kembali ke masak. Suatu hari pernah aku merasa sangat lapar. Kemudian aku masak setelah lembur. Agak gelap suasananya. Nyamuk gak bisa dikompromi untuk tidak menggigitku, tapi aku perjuangkan demi "menipu" cacing-cacing yang ada di perutku. Aku masak.

Saat masak, eh ada salah satu mitra kerjaku, sesama tukang aduk pasir, datang dan bilang, "Teng... teng ... ndang mateng, wetengku ngelih." Aku langsung jengkel. Aku bilang, "Minggir! Jangan gangu lagi masak."

Dia bilang, "Cah cilik kok kemaki!"

Darahku langsung naik. Memang dia sering ngomong tidak enak. Dendam yang terakumulasi dan inilah saatnya aku lampiaskan, pikirku. Kepalaku rasanya muter. Tanpa ba bi bu, langsung tak sikat dengan pukulan tanpa bayangan (maklum gelap).

Ia pun terjungkal. Lalu bangkit, dan bilang "Cah cilik wani-wani karo wong tuo. Ayo tangi!"

Perkelahian pun terjadi. Teman-temanku hanya menonton. Usek-usek aku ditekuk. Ampun-ampun aku dibuatnya. Wajahku diusek-usekke ke bekas bakaran kayu. Hitam legam tanpa terlihat warna lain, kecuali hitam dan gelap karena arang.

Isin. Tapi aku bangga bisa gelut meskipun kalah. Dan semenjak itu aku berpikir kelak aku akan balas dendam. Kelak aku akan mencari bela diri yang bisa mengajarkanku gelut dan jika ketemu akan kubalas.

Hingga satu tahun kemudian aku menemukannya. Tetapi ternyata setelah aku belajar sekian lama, dendam tidaklah menyelesaikan masalah. Dendam hanya akan menimbulkan dendam. Dendam turunan? Ah tidak. Aku tidak mau itu terjadi.

Di atas langit ada langit. Itu ajaran pelatihku dulu. "Jangan sombong, jangan pamer, jangan angkuh. Seberapa pun tinggi ilmu yang kalian miliki, pasti ada yang melebihi. Dan ilmu tertinggi hanyalah milik Allah SWT."

Siap guru. Aku mendengarkan!

Bapakku Bukan Maling

Aku sengaja menulis postingan ini dengan judul ini. Mengerikan ya? Iya. Ini aku tulis saat aku ingat masa kecil dulu, saat bapakku dituduh maling cabai oleh seseorang. Kejadian itu sudah sangat lama sekali saat aku masih usia 4 tahunan.

Bapakku adalah seorang pekerja keras. Karena beliau sadar dengan pendidikan rendah, daya dukung atau modal yang sangat kecil, tidak ada pilihan lain bagi beliau kecuali untuk bekerja keras.

Aku anak kedua dari 4 bersaudara waktu itu. Adikku paling kecil baru lahir. Ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Sejak aku umur 3 tahun, bapak memutuskan pindah ke tempat yang baru, yang jauh dari sanak keluarganya. Kami benar-benar berada di tempat yang jauh dari siapapun. Tempat itu benar-benar baru.

Bapak, tanpa modal berarti datang ke daerah itu, tepatnya Dusun Sidakaya, Desa Cisumur, berbekal tekad kuat. Bapak tidak membawa apapun, kecuali tekad kuat, ibuku dan anak-anaknya.

Sampai di tempat tujuan, bapak hanyalah mondok (mendirikan gubung tempat berteduh kami di tanah orang lain), tentu seizin pemilik tanah. Dengan modal menjual jadi (jadi adalah alat seperti wajan sangat besar untuk membuat dodol saat orang punya hajat), beliau membeli sepetak tanah kecil yang tidak rata.

Siang malam bapak kerja keras. Bapak bekerja ngrenyeng (mengangkut tanah dengan pengki ganda).

Pada suatu malam, bapak yang merokok, (jangan bayangkan rokoknya yang bermerk, tetapi lintingan), sudah tidak punya apa-apa. Yang ada hanya tembakau. Karena punya kawan yang cukup dekat rumahnya dengan tempat bapak ngrenyeng tadi, bapak putuskan untuk datang. Waktu itu sekitar jam 2 malam.

Saat menuju rumah kawannya, Paklik Dipaleksana, bapak melewati tepian kebun cabai. Ternyata kebun cabai itu ditunggui oleh pemiliknya. Bapak lewat, dan dipanggil oleh si pemilik cabe. "Hei siapa itu? Berhenti!"

Karena merasa bukan maling, bapak berhenti. Ditunggu lama gak datang-datang. Waktu itu remang-remang, bapakku pun ganti teriak, "Cepetan kalau mau ke sini. Aku keburu pengin merokok nih. Kalau gak aku tinggal." Karena ditunggu lama tidak datang, bapak pun langsung menuju ke rumah Dipa, sampai sekitar satu jam merokok bersama.

Keesokan harinya, saat bapak lagi sarapan pagi, orang satu kampung berdemo di depan gubuk kami. Bapak kaget, ibu menangis dan kami pun ikut menangis.

Pakdhe Madsuwito bilang, "Kur, kamu datang ke sini hanya untuk jadi maling? Tahu seperti itu tak kubur hidup-hidup. Kamu ini memalukan keluarga."

Semua orang memaki, menghardik. Kami semakin ketakutan. Sangat takut. Kami hanya bisa menangis.

Bapak pun di sidang. Kami hanya melihat raut muka bapakku yang biasa saja. Beliau sangat tenang, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.

Saat di sidang, bapakku dibentak-bentak. Memang pantas kalau bapakku jadi maling. Kondisi keluargaku waktu itu luar biasa miskin. Kami biasa makan nasi gaplek, kadang beras dimasak dicampur pisang. Makan pun dibagi, dengan nasi setengah bubur. Satu hari kadang satu kali atau dua kali makan. Pantas saja bapakku dituduh maling.

Tetapi, dengan lantang bapakku membantah, "Memang aku orang miskin. Memang aku tidak punya apa-apa, tetapi tidak pernah orang tua mengajari untuk menjadi maling. Lebih baik mati kelaparan daripada kekenyangan tetapi makan harta orang lain."

Pakdhe Suwito tetap bersungut-sunguh, "Kamu ngaku saja. Jangan pernah membuat malu keluarga. Kalau tahu begitu, kamu sudah tak gorok lehermu!" sambil matanya melotot keluar.

Aku, kakakku, adikku dan ibu semakin menangis ketakutan.

Pak RT, Mang Idi namanya, pun angkat bicara. Saya lupa siapa nama si penuduh, tetapi saya ingat Mang Idi bilang, "Apa bukti kalau Sukur mencuri cabaimu?"

Ditanya demikian, si penuduh diam seribu bahasa. Ratusan orang diam. Mereka penuh mengelilingi rumah Pak RT. Orang yang sirik dengan bapakku semakin menjadi-jadi menggunjing. Aku dengar semuanya.

Sidang pun berlanjut hingga sekitar 2 jam. Kesimpulannya bahwa tidak satu buah cabai pun yang hilang. Setelah itu, seluruh orang kampung yang tadinya mau membunuh bapakku, justru ganti mengancam orang tersebut, "Mulai hari ini, cabut semua pohon cabaimu, dan pergi dari sini!"

Ibuku menangis semakin keras. Bukan lagi menangis karena ketakutan, tetapi menangis gembira. Aku pun ikut merasakan betapa ibu sangat gembira. Aku ikut bahagia.

Bapakku bukan maling. Bapakku adalah pria terhebat yang pernah aku kenal sepanjang hidupku. Karena bapakkulah aku mengenal dunia ini. Beliau memang hanyalah lulusan SD, kampungan, tetapi mampu membimbing anak-anaknya untuk lebih mengerti kehidupan, mendidik anak-anaknya untuk berlaku jujur.

Aku bangga padamu Pak. Dan ibu, aku menyayangimu. Semoga engkau damai di alam sana ibu. Kami selalu mendoakanmu. Kami, anak-anakmu bangga padamu, bapak dan ibuku.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sekolah Inggris Online, E-English Class