Sunday, February 13, 2011

Ketika Satu Pintu Tertutup, Ada Pintu Lain yang Terbuka

Seringkali kita menyesali satu kejadian di mana kita merasa kehilangan. Bersedih adalah wajar, itu manusiawi. Namun bersedih berlarut-larut karena kehilangan sesuatu itu yang perlu kita ubah dalam kehidupan kita.

Ingkatlah pepatah ini: "Ketika satu pintu tertutup, maka pintu lain terbuka; namun kita seringkali terlalu lama melihat pintu yang tertutup itu dan menyesalinya sehingga kita tidak bisa melihat pintu lain yang terbuka untuk kita."

Mengapa kita harus terus berfokus pada pintu yang tertutup sementara kita mengabaikan pintu yang terbuka? Mengapa kita terus berfokus pada sesuatu yang telah lepas atau tidak kita dapatkan dalam kehidupan kita dan tidak menyadari bahwa masih ada pintu lain yang terbuka?

Tulisan ini terinsipasi oleh salah satu teman saya yang mencurahkan perasaan karena ternyata ia ditinggalkan oleh kekasihnya yang ia niatkan untuk ia nikahi. Nasihatku untuknya adalah: Mengapa kau terus sesali orang yang telah meninggalkanmu? Di luar sana masih banyak wanita lain yang menunggumu untuk kau lamar, untuk kau jadikan istri. Di luar sana masih banyak orang yang jauh lebih baik dari dia. Jangan terus bersedih kawan.

Sesuatu yang nyata-nyata belum menjadi rezeki kita, apapun usaha yang kita lakukan, maka ia tidak akan pernah kita dapatkan, ataupun sudah kita dapatkan dan lepas lagi. Pertama yakinilah itu terlebih dahulu, minimal untuk menenangkan hati. Kemudian ingatlah bahwa keadilan Tuhan pasti. Ketika satu peluang tertutup untuk kita, maka ada peluang lain yang terbuka untuk kita. Sehingga kita tidak boleh hanya berfokus untuk peluang yang sudah tertutup untuk kita dan meratapinya. Kita seringkali berharap dan terus berharap bahwa pintu atau peluang itu akan terbuka lagi untuk kita.

Yakinlah kawan, bahwa Tuhan mempunyai rencana terbaik untuk kita. Bukankah agama mengajarkan bahwa Tuhan itu sesungguhnya sesuai dengan prasangka hamba-NYa? Tuhan itu Maha Adil karena hamba-Nya berpasangka adil, sehingga kedamaianlah yang ia dapatkan. Namun jika hamba-Nya berprasangka bahwa Tuhan tidak adil dan hidup kita seperti di neraka, maka neraka dunialah yang kita dapatkan. Apa wujud neraka dunia? Hidup tidak damai, tidak tentram, selalu murung, selalu berprasangka buruk, dan kaitannya dengan peluang, kita tidak bisa melihat lagi peluang lain untuk kita.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sekolah Inggris Online, E-English Class