
Dia tidak cantik. Tidak ada yang istimewa darinya. Dia biasa-biasa saja. Tidak ada yang menonojol di mata umum. Dia besar dari sebuah keluarga dari enam bersaudara dan dialah yang tertua. Dia belajar bertanggung jawab sejak usia muda.
Ketika ia makin besar dan makin bersinar, dia menanamkan dalam dirinya semacam cahaya dan keindahan bagi siapa saja yang melihatnya. Dia tidak cantik, tetapi dia membuat semua orang merasa lebih baik jika ada dia. Dia bertemu dengan anak berandalan yang berpikir bahwa dialah satu-satunya pria, gadis itu berteman dengannya, dan mengajarinya. Dia mengajari anak muda itu bagaimana cara membaca, mengajari bahwa anak itu tentang pentingnya kuliah, dan mereka akhirnya menjadi teman dan akhirnya gadis itu jatuh cinta pada pemuda tampan itu.
Kemudian pemuda itu pun jatuh cinta pada gadis seorang gadis. Seorang gadis yang sangat cantik. Rambutnya berkilauan. Matanya biru sebiru lautan paling biru. "Seperti seorang bidadari" kata dia padanya "seperti seorang bidadari yang cantik." Gadis itu menelan ludah. Dia tidak cantik, dia tidak teriris hatinya. Namun ia tidak tega, selama pemuda itu senang, dia akan merasa senang, atau dia akan berusaha untuk senang. Dia membantu pemuda itu menulis surat paling indah untuk bidadarinya itu. Selama mengamati surat itu, serasa gadis itulah yang menerima surat itu. Dan gadis itu juga membatu pemuda itu memilih pakaian yang pas, berkata-kata yang pas, dan membeli hadiah yang pas untuk bidadarinya itu.
Sang bidadari itu membuatnya sangat senang dan di sisi lain rasa sakit yang luar biasa bagi gadis yang menangis di balik senyumnya. Namun ia tidak akan pernah berhenti memberi yang lebih dari sekedar yang ia terima. Kemudian pada suatu hari, bidadari yang ia cintai pergi meninggalkannya demi pria lain. Demi seorang pria yang lebih kaya. Pemuda itu tertegun. Dia sangat sakit, dia tidak mau bicara sama sekali selama beberapa hari. Pemuda itu menangis di bahu gadis itu dan gadis itu pun menangis bersamanya.
Pemuda itu sakit dan gadis itu pun ikut sakit. Waktu pun berlalu dan luka pun sembuh. Pemuda itu menyadari adanya sesuatu yang ada pada temannya itu. Sesuatu yang tidak ia sadari sebelumnya. Betapa tawa candanya terdengar indah dan betapa senyumnya menyinari kegelapan, dan betapa cantiknya ia dalam pandangannya!
Cantik. Gadis sederhana yang biasa saja menjadi begitu cantik di hadapannya. Dan ia pun mulai jatuh cinta. Jatuh cinta pada gadis itu. Pada suatu hari ia memberanikan diri untuk menemuinya. Dia berjalan menuju ke rumahnya, gugup dan gemetar. Berbagai pikiran melayang-layang di kepalanya.
Dia ingin mengatakan pada gadis itu betapa cantiknya dia. Dia ingin mengatakan bahwa ia sangat mencintainya. Dia mengetuk pintu. Tidak ada seorang pun di rumah.
Keesokan harinya, ia mengetahui bahwa gadis cantik yang ia cintai itu terkena kanker otak hingga ia koma. Para dokter tidak berdaya dan keluarganya pun siap merelakan ia pergi.
Akhirnya ia ketemu gadis itu. Dia memegang tangannya. Dia membelai rambutnya dan dia menangis untuk gadis cantik itu. Dia menangis, tetapi itu sudah terlambat. Gadis itu telah dimakamkan. Di musim semi yang indah itu, tangisan kehilangan pun muncul. Dialah gadis paling cantik di dunia ini dan dialah yang mengajari anak jalanan ini untuk mencintai dan apa yang harus dicintai.
Dialah gadis paling cantik di dunia.
Lihatlah sekelilingmu. Bukankah banyak wajah-wajah yang biasa saja? Perhatikan baik-baik. Rupa menawan yang sesungguhnya atau yang mungkin kau rindukan adalah orang cantik seperti dia.


11:13 PM
Lintang Sunu
Posted in:
0 comments:
Post a Comment