
Hidup dan kehidupan adalah dua kata yang bersumber sama tetapi memiliki makna yang berbeda. Dan berbeda lagi ketika ada kata menghidupkan kehidupan.
Kemudian pertanyaannya adalah apakah kita hanya hidup dalam kehidupan ataukah berusaha menghidupkan kehidupan itu sendiri? Menghidupkan kehidupan bukan berarti menyaingi Tuhan sebagai Sang Pencipta hidup. Menghidupkan kehidupan adalah menghiasi kehidupan ini agar bisa seindah dan sebaik mungkin. Seberapa jauh peran kita dalam kehidupan itulah yang menjadi tolak ukur keberhasilan kita menghidupkan kehidupan.
Kita diciptakan dan dilahirkan dalam keadaan sama, tidak membawa apapun, kecuali nyawa dan jasad kita. Kita dibekali hati dan pemikiran oleh Tuhan kita. Kita semua sama mengikuti hukum alam (dalam bahasa agamanya sunattulah), yakni hukum-hukum jasadiah yang tidak bisa lepas sebagai insan manusia. Ketika kita tidak makan maka kita akan lapar, ketika kita tidak minum maka kita akan haus, ketika kita tidak tidur kita akan mengantuk, dan hukum-hukum alam lainya.
Namun ada satu yang kita, dalam diri setiap insan manusia, laki-laki maupun perempuan, besar ataupun kecil, tua ataupun muda, yakni kebebasan berpikir dan merasa. Kita diberi kebebasan berpikir sebebas-bebasnya. Kita diberi pilihan kaitannya dengan pikiran kita seluas-luasnya, hanya saja manusia itu sendiri kadang yang membatasinya.
Lantas bagaimana kaitannya dengan kehidupan? Kita diberi kebebasan untuk menghidupkan kehidupan, minimal kehidupan pribadi diri kita sendiri, apakah anda akan selalu menjadi orang yang mengekor ataukah pionir? Apakah anda akan selalu menjadi pecundang ataukah pemenang? Semua itu pilihan Anda.
Jika ada pilihan hidup semacam itu, mengapa kita memilih untuk yang selalu menjadi pengekor dan pecundang? Memang lebih mudah untuk mengekor dan menjadi pecundang daripada menjadi pionir dan pemenang.
Menjadi yang di depan dan pemenang akan menjadi orang yang pertama kali menghadapi rintangan dan halangan. Bukankah orang-orang hebat di luar sana itu adalah para pemenang yang berjuang untuk menjadi pemenang dengan hinaan, cercaan, makian, dan cemoohan. Rasulullah Muhammamd SAW adalah manusia pemenang sejati, manusia pemenang nomor satu sepanjang massa. Beliau tidak pernah menyerah menyampaikan kebenaran meskipun dia diusir, dicaci maki, bahkan diancam akan dibunuh? Namun karena keteguhan dan semangat beliau menyampaikan kebenaran Tuhan pun turun tangan. Tuhan tidak akan tinggal diam pada umatnya yang bersungguh-sungguh mencari dan berusaha manusia sejati.
Jadi, jika dipilih menjadi bulan yang redup di kala tidak ada sinar ataukah menjadi bintang yang selalu bersinar sepanjang masa, yang dengan sinarnya itu ia bisa menyinari kehidupan, yang dengan sinarnya ia bisa menghidupkan kehidupan? Menjadi bintang yang selalu bersinar yang sinarnya takkan padam kecuali hingga saatnya adalah pilihan yang paling mulia.
Kemudian pertanyaannya adalah apakah kita hanya hidup dalam kehidupan ataukah berusaha menghidupkan kehidupan itu sendiri? Menghidupkan kehidupan bukan berarti menyaingi Tuhan sebagai Sang Pencipta hidup. Menghidupkan kehidupan adalah menghiasi kehidupan ini agar bisa seindah dan sebaik mungkin. Seberapa jauh peran kita dalam kehidupan itulah yang menjadi tolak ukur keberhasilan kita menghidupkan kehidupan.
Kita diciptakan dan dilahirkan dalam keadaan sama, tidak membawa apapun, kecuali nyawa dan jasad kita. Kita dibekali hati dan pemikiran oleh Tuhan kita. Kita semua sama mengikuti hukum alam (dalam bahasa agamanya sunattulah), yakni hukum-hukum jasadiah yang tidak bisa lepas sebagai insan manusia. Ketika kita tidak makan maka kita akan lapar, ketika kita tidak minum maka kita akan haus, ketika kita tidak tidur kita akan mengantuk, dan hukum-hukum alam lainya.
Namun ada satu yang kita, dalam diri setiap insan manusia, laki-laki maupun perempuan, besar ataupun kecil, tua ataupun muda, yakni kebebasan berpikir dan merasa. Kita diberi kebebasan berpikir sebebas-bebasnya. Kita diberi pilihan kaitannya dengan pikiran kita seluas-luasnya, hanya saja manusia itu sendiri kadang yang membatasinya.
Lantas bagaimana kaitannya dengan kehidupan? Kita diberi kebebasan untuk menghidupkan kehidupan, minimal kehidupan pribadi diri kita sendiri, apakah anda akan selalu menjadi orang yang mengekor ataukah pionir? Apakah anda akan selalu menjadi pecundang ataukah pemenang? Semua itu pilihan Anda.
Jika ada pilihan hidup semacam itu, mengapa kita memilih untuk yang selalu menjadi pengekor dan pecundang? Memang lebih mudah untuk mengekor dan menjadi pecundang daripada menjadi pionir dan pemenang.
Menjadi yang di depan dan pemenang akan menjadi orang yang pertama kali menghadapi rintangan dan halangan. Bukankah orang-orang hebat di luar sana itu adalah para pemenang yang berjuang untuk menjadi pemenang dengan hinaan, cercaan, makian, dan cemoohan. Rasulullah Muhammamd SAW adalah manusia pemenang sejati, manusia pemenang nomor satu sepanjang massa. Beliau tidak pernah menyerah menyampaikan kebenaran meskipun dia diusir, dicaci maki, bahkan diancam akan dibunuh? Namun karena keteguhan dan semangat beliau menyampaikan kebenaran Tuhan pun turun tangan. Tuhan tidak akan tinggal diam pada umatnya yang bersungguh-sungguh mencari dan berusaha manusia sejati.
Jadi, jika dipilih menjadi bulan yang redup di kala tidak ada sinar ataukah menjadi bintang yang selalu bersinar sepanjang masa, yang dengan sinarnya itu ia bisa menyinari kehidupan, yang dengan sinarnya ia bisa menghidupkan kehidupan? Menjadi bintang yang selalu bersinar yang sinarnya takkan padam kecuali hingga saatnya adalah pilihan yang paling mulia.


11:16 PM
Lintang Sunu
Posted in:
0 comments:
Post a Comment