Friday, July 6, 2012

Bunga Itu Pun Telah Layu

Beberapa minggu lalu aku pergi ke sana kemari untuk satu urusan. Capek sekali. Kemarin aku tempat temanku yang sudah cukup lama tidak ketemu. Terakhir ketemu aku lihat halamannya penuh dengan bunga-bunga yang indah. Tetapi kini aku melihat sebagian bunga yang sudah layu. Saat aku tanya kok layu, karena sebagian dia cabut sendiri, dan tidak diurusi.

Kuperhatikan bunga itu, aku pun berpikir, seharusnya temanku merawatnya, menjaganya, dan menyiraminya, tetapi malah ia mencabut dan mengabaikannya. Wajar saja kalau bunganya layu.

Dan otakku langsung teringat pada salah satu sahabatku. Dia seorang gadis yang cantik. Ketemu dia beberapa tahun lalu, aku mengenalnya sebagai pribadi yang introvert (tertutup). Aku lihat ada sesuatu yang ia simpan, yang ia rahasiakan, sebagai beban hidup. Sebagai sahabat dan ia juga menganggapku sebagai kakak, aku mencoba mencaritahu apa sebabnya. Setiap kali aku tanya, dia hanya bisa menangis.

Setahun yang lalu, tanpa aku minta pun ia akhirnya cerita padaku. Sebut saja namanya Mawar.

"Mas, aku merasa tidak kuat menanggung beban ini," Mawar memulai pembicaraan.
"Beban apa dik, ceritakanlah. Barangkali aku bisa membantu mengangkat bebanmu, atau minimal membantu mencarikan solusinya," jawabku.
"Tapi aku malu mas, ini aibku," lanjutnya.

Aku pun terdiam. Pikiranku melayang memikirkan masalah apa gerangan.
"Kalau adik percaya, aku tidak akan membuka aibmu pada siapapun. Percayalah!" ucapku.
"Janji juga ya mas, setelah mas tahu cerita adik, mas tidak akan menjauhiku," ia berkata sambil terus terisak.
Aku pun semakin terbawa, "Ceritakanlah dik, kalau kamu menganggapku sebagai kakakmu."

Menghela nafas panjang dan air matanya terus meleleh.
Ia pun memulai ceritanya, "Mas setiap kali di keremangan, aku selalu merasa ketakutan luar biasa. Aku ingat pengalaman pahit masa laluku,"
"Memang kenapa dengan keremangan dik, apakah takut dengan hantu?" tanyaku.
"Gak mas, waktu aku masih umur 3 tahun, kedua orang tuaku cerai. Kakakku yang laki-laki ikut ibu, dan aku ikut bapak," imbuhnya.

Menyeka air matanya dengan tissue, ia pun melanjutkan kisahnya, sementara aku terhenyak diam, "Awalnya aku bahagia mas. Tapi setelah beberapa bulan, ayahku berubah. Aku yang tidur di kamar, aku didatangi langsung dan digerayangi seluruh tubuhku. Pertama tidak diapa-apakan. Tetapi besok malamnya, di keremangan lampu, aku melihat bapakku menggerayangiku dan menggagahiku, di usiaku yang masih tiga tahun."

Mataku terbelalak, "Yang benar saja dik?"
"Mas, aku jujur cerita apa adanya. Bapak melakukannya sampai aku kelas 3 SD," ia terus menyeka air matanya.

"Lalu sekarang bagiamana dik?" tanyaku.
"Aku sulit untuk percaya pada yang namanya kaum Adam. Sulit mas. Aku takut. Dan aku ini sudah merasa hina, aku sudah tidak suci lagi. Aku sakit mas," lanjutnya.
"Dik, kalau kamu berpikir seperti itu, berarti kamu juga tidak percaya pada kakakmu ini?" tanyaku lagi.
"Bukan begitu mas," jawabnya singkat.

Kini di usianya yang sudah di atas 20 tahun, ia pun masih merasakan ketakutan. Aku selalu menasihatkan untuk bersabar. Memang kata-kata bersabar itu mudah, tetapi ia yang merasakan trauma. Tetapi paling tidak aku berusaha menjadi saudara yang membantu dengan simpatiku.

"Aku tidak bisa berbuat apapun, tetapi ingatlah Tuhanmu dik. Allah tidak tidur. Percayakah engkau bahwa Tuhan Maha Pengasih? Masih percayakah engka Bahwa Tuhan Maha Segalanya?" nasihatku.

"Apapun yang terjadi di dunia ini pasti atas izin Tuhan. Dan yang terjadi padamu pun atas izin-Nya. Ikhlaslah dik. Kau dipersiapkan Tuhan untuk menjadi penghuni syurga, jika engkau tetap ikhlas bahwa ini adalah bagian dari perjalanan hidupmu. Boleh saja engkau tidak suci lagi, tetapi di mataku kau adalah gadis suci. Karena kesucianmu terenggut tanpa kau berdaya sama sekali," imbuhku lagi.

Dik, tulisan ini kupersembahkan kepadamu. Aku, kakakmu, tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang pasti aku pun ikut prihatin. Semoga engkau memang dipersiapkan sebagai penghuni syurga kelak atas keikhlasanmu menerima semua ini, atas keikhlasanmu menerima kenyataan bahwa ini sudah menjadi bagian hidupmu yang tidak bisa kau tentang. Ada maksud dari segala sesuatu.

Aku, kakakmu, selalu mendoakanmu dan menyayangimu, adikku!

1 comments:

Unknown said...

nice..
welcome to maulanaflash20.blogspot.com

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sekolah Inggris Online, E-English Class