Aku sengaja menulis postingan ini dengan judul ini. Mengerikan ya? Iya. Ini aku tulis saat aku ingat masa kecil dulu, saat bapakku dituduh maling cabai oleh seseorang. Kejadian itu sudah sangat lama sekali saat aku masih usia 4 tahunan.
Bapakku adalah seorang pekerja keras. Karena beliau sadar dengan pendidikan rendah, daya dukung atau modal yang sangat kecil, tidak ada pilihan lain bagi beliau kecuali untuk bekerja keras.
Aku anak kedua dari 4 bersaudara waktu itu. Adikku paling kecil baru lahir. Ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Sejak aku umur 3 tahun, bapak memutuskan pindah ke tempat yang baru, yang jauh dari sanak keluarganya. Kami benar-benar berada di tempat yang jauh dari siapapun. Tempat itu benar-benar baru.
Bapak, tanpa modal berarti datang ke daerah itu, tepatnya Dusun Sidakaya, Desa Cisumur, berbekal tekad kuat. Bapak tidak membawa apapun, kecuali tekad kuat, ibuku dan anak-anaknya.
Sampai di tempat tujuan, bapak hanyalah mondok (mendirikan gubung tempat berteduh kami di tanah orang lain), tentu seizin pemilik tanah. Dengan modal menjual jadi (jadi adalah alat seperti wajan sangat besar untuk membuat dodol saat orang punya hajat), beliau membeli sepetak tanah kecil yang tidak rata.
Siang malam bapak kerja keras. Bapak bekerja ngrenyeng (mengangkut tanah dengan pengki ganda).
Pada suatu malam, bapak yang merokok, (jangan bayangkan rokoknya yang bermerk, tetapi lintingan), sudah tidak punya apa-apa. Yang ada hanya tembakau. Karena punya kawan yang cukup dekat rumahnya dengan tempat bapak ngrenyeng tadi, bapak putuskan untuk datang. Waktu itu sekitar jam 2 malam.
Saat menuju rumah kawannya, Paklik Dipaleksana, bapak melewati tepian kebun cabai. Ternyata kebun cabai itu ditunggui oleh pemiliknya. Bapak lewat, dan dipanggil oleh si pemilik cabe. "Hei siapa itu? Berhenti!"
Karena merasa bukan maling, bapak berhenti. Ditunggu lama gak datang-datang. Waktu itu remang-remang, bapakku pun ganti teriak, "Cepetan kalau mau ke sini. Aku keburu pengin merokok nih. Kalau gak aku tinggal." Karena ditunggu lama tidak datang, bapak pun langsung menuju ke rumah Dipa, sampai sekitar satu jam merokok bersama.
Keesokan harinya, saat bapak lagi sarapan pagi, orang satu kampung berdemo di depan gubuk kami. Bapak kaget, ibu menangis dan kami pun ikut menangis.
Pakdhe Madsuwito bilang, "Kur, kamu datang ke sini hanya untuk jadi maling? Tahu seperti itu tak kubur hidup-hidup. Kamu ini memalukan keluarga."
Semua orang memaki, menghardik. Kami semakin ketakutan. Sangat takut. Kami hanya bisa menangis.
Bapak pun di sidang. Kami hanya melihat raut muka bapakku yang biasa saja. Beliau sangat tenang, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.
Saat di sidang, bapakku dibentak-bentak. Memang pantas kalau bapakku jadi maling. Kondisi keluargaku waktu itu luar biasa miskin. Kami biasa makan nasi gaplek, kadang beras dimasak dicampur pisang. Makan pun dibagi, dengan nasi setengah bubur. Satu hari kadang satu kali atau dua kali makan. Pantas saja bapakku dituduh maling.
Tetapi, dengan lantang bapakku membantah, "Memang aku orang miskin. Memang aku tidak punya apa-apa, tetapi tidak pernah orang tua mengajari untuk menjadi maling. Lebih baik mati kelaparan daripada kekenyangan tetapi makan harta orang lain."
Pakdhe Suwito tetap bersungut-sunguh, "Kamu ngaku saja. Jangan pernah membuat malu keluarga. Kalau tahu begitu, kamu sudah tak gorok lehermu!" sambil matanya melotot keluar.
Aku, kakakku, adikku dan ibu semakin menangis ketakutan.
Pak RT, Mang Idi namanya, pun angkat bicara. Saya lupa siapa nama si penuduh, tetapi saya ingat Mang Idi bilang, "Apa bukti kalau Sukur mencuri cabaimu?"
Ditanya demikian, si penuduh diam seribu bahasa. Ratusan orang diam. Mereka penuh mengelilingi rumah Pak RT. Orang yang sirik dengan bapakku semakin menjadi-jadi menggunjing. Aku dengar semuanya.
Sidang pun berlanjut hingga sekitar 2 jam. Kesimpulannya bahwa tidak satu buah cabai pun yang hilang. Setelah itu, seluruh orang kampung yang tadinya mau membunuh bapakku, justru ganti mengancam orang tersebut, "Mulai hari ini, cabut semua pohon cabaimu, dan pergi dari sini!"
Ibuku menangis semakin keras. Bukan lagi menangis karena ketakutan, tetapi menangis gembira. Aku pun ikut merasakan betapa ibu sangat gembira. Aku ikut bahagia.
Bapakku bukan maling. Bapakku adalah pria terhebat yang pernah aku kenal sepanjang hidupku. Karena bapakkulah aku mengenal dunia ini. Beliau memang hanyalah lulusan SD, kampungan, tetapi mampu membimbing anak-anaknya untuk lebih mengerti kehidupan, mendidik anak-anaknya untuk berlaku jujur.
Aku bangga padamu Pak. Dan ibu, aku menyayangimu. Semoga engkau damai di alam sana ibu. Kami selalu mendoakanmu. Kami, anak-anakmu bangga padamu, bapak dan ibuku.


4:20 PM
Lintang Sunu
Posted in:
0 comments:
Post a Comment