Tuesday, June 26, 2012

Aku Berkelahi: Demi Harga Dirikah?

Lucu jika aku ingat kejadian itu, kejadian di mana pertama kali aku berkelahi. Benar-benar berkelahi, gelut. Saat itu aku masih kecil, imut-imut, ganteng lagi. Hehehehehehehe.... (Bebek silem).

Saat aku baru lulus SMP tahun 1994, aku dengan gagahnya mencoba menaklukkan kerasnya ibukota. Datang ke Jakarta sebagai buruh, kuli bangunan. Tanpa basa-basi aku langsung melamar, mengajukan aplikasi menjadi seorang tukang aduk pasir dan semen di sebuah perusahaan yang namanya sangat keren, PT. Dwi Dara Putra Tama. Wow... keren sekali namanya.

Aku bekerja di sebuah perusahaan yang bernama PT. Dan itu sangat aku banggakan saat aku mengirim surat ke orang tuaku. Aku bilang bekerja di PT Dwi Dara Putratama. Bapak dan ibuku tahu bahwa aku bekerja di sebuah tempat yang bernama PT, tetapi beliau tidak tahu apa yang aku kerjakan. Tukang aduk.

Tiap hari aku harus mengaduk pasir dan semen, melayani tukang batu, dengan gaji yang sangat besar (menurut ukuranku waktu itu), Rp. 5.000,- per hari. Belum pernah aku mendapatkan upah sebesar itu. Belum pernah aku memiliki uang sebesar itu dalam sehari. Dan kini sejumlah uang yang cukup besar itu bisa aku raih hanya dalam satu hari.

Gaji diberikan setiap hari Sabtu, jika plus lembur ya cukup lumayan. Dalam satu minggu bisa mendapatkan uang sebesar Rp. 52.000,- - Rp. 60.000,-. Hmmmm... jumlah yang sangat besar.

Setiap hari Sabtu aku langsung meluncur ke Gedung Bioskop, satu-satunya Gedung Bioskop di Pasar Cikupa, Tangerang. Keren rasanya bisa nonton bioskop. Maklum di rumahku TV pun gak punya, kok tahu-tahu bisa nonton bioskop. Pengalaman luar biasa.

Untuk menghemat, saya memilih masak sendiri. Beli semua peralatan masak, ada panci, ada wajan, ada suthil, dan lain-lain. Wis pokoknya keren. Ingat waktu ikut pramuka, padahal kalau pramuka hanya kemahnya saja yang aku suka, kalau suruh latihan, apalagi menghapalkan sandi-sandi, semplok rasane poloku.

Kembali ke masak. Suatu hari pernah aku merasa sangat lapar. Kemudian aku masak setelah lembur. Agak gelap suasananya. Nyamuk gak bisa dikompromi untuk tidak menggigitku, tapi aku perjuangkan demi "menipu" cacing-cacing yang ada di perutku. Aku masak.

Saat masak, eh ada salah satu mitra kerjaku, sesama tukang aduk pasir, datang dan bilang, "Teng... teng ... ndang mateng, wetengku ngelih." Aku langsung jengkel. Aku bilang, "Minggir! Jangan gangu lagi masak."

Dia bilang, "Cah cilik kok kemaki!"

Darahku langsung naik. Memang dia sering ngomong tidak enak. Dendam yang terakumulasi dan inilah saatnya aku lampiaskan, pikirku. Kepalaku rasanya muter. Tanpa ba bi bu, langsung tak sikat dengan pukulan tanpa bayangan (maklum gelap).

Ia pun terjungkal. Lalu bangkit, dan bilang "Cah cilik wani-wani karo wong tuo. Ayo tangi!"

Perkelahian pun terjadi. Teman-temanku hanya menonton. Usek-usek aku ditekuk. Ampun-ampun aku dibuatnya. Wajahku diusek-usekke ke bekas bakaran kayu. Hitam legam tanpa terlihat warna lain, kecuali hitam dan gelap karena arang.

Isin. Tapi aku bangga bisa gelut meskipun kalah. Dan semenjak itu aku berpikir kelak aku akan balas dendam. Kelak aku akan mencari bela diri yang bisa mengajarkanku gelut dan jika ketemu akan kubalas.

Hingga satu tahun kemudian aku menemukannya. Tetapi ternyata setelah aku belajar sekian lama, dendam tidaklah menyelesaikan masalah. Dendam hanya akan menimbulkan dendam. Dendam turunan? Ah tidak. Aku tidak mau itu terjadi.

Di atas langit ada langit. Itu ajaran pelatihku dulu. "Jangan sombong, jangan pamer, jangan angkuh. Seberapa pun tinggi ilmu yang kalian miliki, pasti ada yang melebihi. Dan ilmu tertinggi hanyalah milik Allah SWT."

Siap guru. Aku mendengarkan!

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sekolah Inggris Online, E-English Class