
Saat jam istirahat sekolah, waktu aku masih SD kelas V, aku merasa ngiler saat teman-temanku berhambur keluar kelas dan lari ke warung jajanan Nini Belor. Mereka dengan bangganya mengeluarkan uang recehan Rp. 25,- sampai Rp. 50,- untuk membeli gethuk goreng yang sangat menggiurkan untuk dilahap. Tanpa basa-basi, begitu gethuk goreng sudah di tangan disantap tanpa ampun oleh teman-temanku. Aku hanya bisa melongo. Ngiler.
Sejak kecil aku memang tidak terbiasa jajan. Aku malu untuk jajan. Jika pun punya uang jajan akan selalu utuh. Aku tidak terbiasa jajan. Malu. Tetapi sebetulnya malu itu hanyalah alasanku menghiburku agar aku tidak jajan. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa aku tidak pernah punya uang saku. (Jangan bilang-bilang ya.... aku kan malu).
Satu ketika aku beride bagaimana caranya aku bisa seperti teman-temanku, yang begitu gagahnya segera merapat ke warung kebanggaan mereka untuk menikmati gethuk goreng favorit mereka. Untuk minta uang pada orang tuaku adalah hal yang tidak mungkin. Kondisi yang tidak memungkinkan. Kalau aku cerita kondisi orang tuaku yang miskin, aku rasanya tidak tahan meneteskan air mata. Ngrentes. Intinya aku beritahu bahwa orang tuaku tidak mampu memberiku uang saku. Untuk uang SPP sebesar Rp. 150,- per bulan saja sering telat. Nlangsani ya? Oh tidak! Aku bangga punya orang tuaku yang "super kaya" itu.
Ngobrol-ngobrol sama kawan akrabku, yang sebetulnya adalah kawan gelutku. Mungkin kalau zaman sekarang aku sama dia ibarat Tom and Jerry. Dan kini aku punya teman yang sampai saat ini kawan-kawanku memanggilku dan dia Tom and Jerry juga, sahabatku Abdul Basir dari Tegal. Tapi, Tom and Jerry di sini bukan aku dan Tom Basir, tetapi aku dan Mang, panggilan akrab sahabatku itu. Aku dan dia bersengkongkol untuk merencakan makar bagaimana bisa makan gethuk goreng yang selalu menggiurkan lidah kami di sekolah itu. Kami mau berkomplot untuk ngutil gethuk goreng itu. Ah itu bukan ide cemerlang. Kalau ketahuan bisa berabe.
"Terus bagaimana caranya agar kita tidak ketinggalan zaman seperti mereka?" tanya Mang.
"Tidak ada solusi lain kecuali minta sama mereka," sahutku.
Wakijan, salah satu temanku yang super setia kawan mendengar rencana kami. Dia duduk di sampingku.
"Kalian pengin gethuk goreng?" tanyanya membuka percakapan.
"Iya!" jawab aku dan Mang serempak.
Kemudian Wakijan merogoh kantong celana merah yang sudah sedikit berwarna kelabu. Maklum ia beli sudah dua tahun lalu. Dari dalam kantongnya bungkusan plastik putih. Tanpa tanya jawab, aku langsung tahu bahwa yang di dalam plastik putih itu adalah gethuk goreng idaman. Gethuk itu langsung dicuil-cuil menjadi tiga bagian. Kami pun akhirnya makan. Ah nikmat. Terima kasih kawanku, Wakijan. Aku tidak akan pernah lupa kebaikanmu, kebaikanmu 23 tahun yang lalu.
Kembali ke masalah gethuk goreng. Aku benar-benar telah terpesona oleh nikmatnya gethuk goreng Nini Belor. Lezat luar biasa. Makan gethuk goreng Nini Belor serasa makan pizza hut. Ah kok membandingkan pizza hut? Beli gethuk goreng saja gak punya uang kok ngomong pizza hut. Itu jika dibandingkan dengan zaman sekarang kawan!
Setelah makan gethuk goreng, kecerdasanku langsung muncul. Hmmmm.... apakah aku cerdas setelah makan gethuk goreng? Tidak juga. Aku cerdas memang dari sono (sedikit pamer ya? Hehehehhehe).
Ideku langsung muncul. Kalau digambar barangkali di atas kepalaku langsung ada gambar lampu bersinar.
Iya. Jualan es lilin. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak tahu. Tetapi aku harus mengaplikasikan ide ini. Aku dekati Borek, bakul es lilin yang mangkal di sekolahku. Aku tanya-tanya prosedur dagang es lilin. Dia cerita semuanya. Akhirnya diam-diam aku rekam semua data yang ia berikan. Akan ku-copy paste.
Satu minggu kemudian, hari Sabtu kebetulan tanggal merah. Aku dan Mang segera menyusun strategi. Bos lilin bernama Kedep. Tempatnya lumayan jauh dari rumahku, sekitar 5 km. Kami tidak mungkin jalan kaki. Kami naik sepeda untuk sampai ke kediaman Bos Kedep.
Sampai di Bos Kedep masih sangat pagi. Kami harus antri, karena para kompetitorku tidak hanya satu atau dua, tetapi banyak, lebih dari 10 dan sebagian besar berumur jauh di atasku. Tetapi aku tidak mau kalah.
Setelah mendaftar sebagai calon sales es lilin, aku pun diterima dan juga temanku Mang. Sebagai uji coba, aku diberi jatah menjual 30 butir es lilin. Standar harga dari Bos dipatok Rp. 15,- dan aku menjual seharga Rp. 25. Aku untung Rp.10,-. Jika 30 butir berarti aku bisa mengantongi Rp. 300,-. Wah banyak sekali. Bisa untuk beli gethuk goreng sampai wetenge bledos, pikirku. Tapi tidak, aku malu saat ditagih SPP oleh kepala sekolahku. Mendingan untuk bayar SPP.
Hari itu aku sukses besar, karena tidak butuh waktu sampai sore stok es lilinku sudah habis semua. Aku untuk Rp. 300,-. Bangga sekali. Aku laporan sama ibundaku tercinta. Ibuku bangga. Aku lebih bangga. Besok pagi aku akan menambah lagi, menjadi 50 butir. Dan besoknya pun sukses. Jadi dalam dua hari aku bisa mengumpulkan Rp. 800,-. Besar sekali. Hebat aku ya? Hehehehehehehehe....
Sejak itu aku rutin jadi bakul es lilin.
Tapi ada cerita sedih kawan. Suatu hari ada tontonan ramai sekali. Pagi aku mengambil 50 butir es lilin dan laris manis. Kemudian aku mengambil lagi 2 termos besar berisi 100 butir. Dan hal sama terjadi. Laris manis. Aku untuk Rp. 1.500,-. Besar sekali ya? Iya karena harga beras per kilogram waktu itu cuma Rp. 200,-. Berarti bisa beli beras 7,5 kg dalam sehari.
Aku dengan sepeda pancalku langsung ngebut pulang, meski kondisi hujan. Jantungku berdegub kencang. Aku segera laporan sama ibuku tentang sukses besarku hari ini. Tidak sadar, bahwa wadah uangnya tidak kutup rapat. Begitu sampai di rumah aku buka wadah uangnya. Uang hilang semua. Aku nangis sejadi-jadinya. Ibuku pun ikut menangis. Aku menangisnya karena bingung bagaimana aku harus setoran sama bosku. Setoran sebesar Rp. 2.250,-. Aku harus nempuhi (mengganti).
Ibu bilang, "Nak, ibu gak punya uang, tapi ibu akan gantikan. Sudah ya jangan menangis. Ibu akan cari pinjaman tetangga."
Ibuku sangat baik. Ibuku cari pinjaman dan dapat. Saat itu hujan lebat. Dengan kaki dan badan loyo karena kehilangan uang dan badan menggigil kedingan aku kayuh sepedaku menuju rumah bos. Tanpa mantel, tanpa payung. Basah kuyup. Aku laporan bahwa uang hilang. Tetapi bos tidak mau tahu. Ya, bos tidak mau peduli bahwa kala itu aku masih sangat-sangat lugu, kala itu aku masih sangat-sangat jujur. Bosku tidak bisa melihat sorot kejujuranku di mataku. Tapi tak apa, aku tetap ganti.
Sejak saat itu pun aku masih tetap berjualan setiap hari libur atau setelah pulang sekolah jika ada tontonan. Aku bisa membantu membiayai sekolahku sendiri. Itu aku lakukan hingga mendekati EBTANAS.
Kini 22 tahun telah berlalu. Aku masih ingat betul kejadian-kejadian itu. Aku bangga pernah menjadi bakul es lilin. Semua itu terinsiprasi oleh gethuk goreng Nini Belor. Setiap kali aku lewat depan SD-ku, aku selalu ingat semua kejadian itu. Aku ingat semuanya.
Kini semuanya itu indah sekali dikenang. Aku bangga pernah menjadi bakul es lilin. Aku bangga pernah bisa membayar SPP-ku sendiri dari hasil kerja kerasku sendiri. Aku bangga bisa menikmati gethuk goreng Nini Belor tanpa ngutil ataupun minta sama temanku. Kini kebanggaan itu aku simpan sampai kini, di dalam memoriku. Aku mencintai kehidupanku, yang sekarang indah untuk dikenang.


3:19 AM
Lintang Sunu
Posted in:
0 comments:
Post a Comment