Monday, July 2, 2012

Linda, Kamu Memang Cantik!

Ini kisah cintaku. Memang bukan cinta pertamaku, tetapi cinta sejatiku yang pertama. Aneh ya? Gak juga. Karena ini berkaitan dengan perasaan yang aku rasakan benar-benar aku ingat dan kukenang.

Ini terjadi tahun 1995 lalu saat aku baru masuk SMA. Aku senang berpetualang sejak lulus SMP tahun 1994. Dan aku putuskan masuk SMA tahun 1995. Waktu itu namanya SMU. Karena jauh, orang tuaku di Cilacap, dan aku sekolah di Bogor, sementara aku tidak punya sanak keluarga, aku memutuskan untuk tinggal di pondok pesantren yang disediakan gratis bagi para siswa yang jauh dari luar daerah, Pondok Pesantren Subulussalam. Selain karena jauh, karena memang aku tidak bisa membaca Al Quran sama sekali. Jangankan membaca Al Quran, shalat pun aku tidak bisa, padahal ketika ditanya agama aku bilang bahwa Islam agamaku.

Jadwal kegiatanku sangat padat. Jam 3 pagi aku harus bangun dan shalat tahajud sekaligus menunggu waktu subuh. Setelah shalat subuh seluruh santri harus mengaji bersama ustadz, biasanya mengaji tilawah. Ngaji tilawah adalah kegiatan di mana salah satu santri membaca Al Quran, yang lain menyimak dan setelah itu menirukan. Nah di sinilah keringatku sebesar jagung-jagung manakala giliranku. Jagankan baca Al Quran, huruf hijaiyah saja aku tidak hapal. Aku malu pada teman-temanku yang masih SMP saja sudah sangat lancar membacanya.

Kegiatan selanjutnya adalah senam militer. Itu dilakukan sekitar jam 5.30 pagi sampai jam 6 pagi. Mandi adalah kegiatan berikutnya, disusul dengan sarapan. Jam 7 pagi sudah standby di kelas untuk menerima pelajaran. Jam 12 siang pulang sekolah. Dan rutinitas pondok pesantren mulai lagi. Setelah shalat dhuhur dan makan siang kami ngaji sampai asyar. Selepas asyar pembagian tugas, ada yang masak, ada yang pergi ke sawah, ada yang berkebun dan sebagainya hingga menjelang maghrib. Selepas maghrib ngaji lagi sampai jam 9 atau 10 malam. Dan sebelum tidur, kami makan malam dilanjutkan belajar. Dan kegiatan itu terus berlanjut setiap hari kecuali hari libur.

Jenuh sekali. Setres. Aku merasa sangat tertekan dengan rutinitas yang sangat menjemukan itu. Aku ingin sekali memahami agama, tapi kegiatan sangat jenuh. Kami tinggal di pondok yang dipagar tinggi. Tidak bisa ke manapun. Hidup kami dibatasi tembok selama 3 tahun.

Pernah suatu sore hari, setelah shalat asyar dan lurah pondok membagi tugas, tugasku adalah berkebun. Berangkat berkebun aku lewat depan kelas. Anak-anak SMP masuk sore hari. Aku sedikit bergaya karena anak-anak Bogor memang cantik-cantik. Saat lewat depan ruang F, aku terkesima. Darahku tersirap. Di depanku ada bunga-bunga indah. Kulihat seorang gadis yang mirip Nike Ardila, salah satu artis favoritku yang baru meninggal beberapa bulan sebelumnya. Ia memakai kacamata. Cantik sekali. Secara tidak sengaja tatapan mataku beradu. Ada perasaan aneh dari dalam diriku. Aku tiba-tiba merasa betah, merasa kerasan untuk tinggal di pondok.

Gadis itu sangat cantik di mataku. Lingkungan sekolah yang tadinya begitu membosankan tiba-tiba saja terasa begitu indah, bak istana dan taman-taman bunga. Di dalamnya ada bunga indah yang belum pernah membuat detak jantungku lebih cepat. Gadis berkacamata itu selalu terpikir dalam hatiku. Ia masih kelas II, tepatnya kelas II-B SMP di lingkungan yayasan tempatku sekolah. Tapi aku tidak tahu namanya.

Aku berpikir bagaimana caranya mengenalnya. Kerja di kebun tidak konsentrasi. Ngaji tidak konsentrasi. Belajar pun tidak konsentrasi. Wajah cantiknya betul-betul terus membayangiku. Siapa namanya gerangan, itulah pertanyaanku yang selalu menggelayut di pikiranku.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tidak dinyana tidak diduga, ternyata ada teman pondokku yang sekelas dengannya. Aku tanya namanya siapa. Namanya bagus sekali, Linda Novita. Ya, Linda Novita. Nama yang sangat indah kedengarannya.

Tapi bagaimana caraku mengenalnya? Aku tidak tahu apakah aku lugu atau nekad, atau bahkan gila. Tanpa pikir panjang, karena aku tidak bisa terus menyimpan perasaan ini, aku tunggu di jembatan di komplek sekolah kami. Sekolah kami dikelilingi sungai kecil, dan di situ ada jembatan kecil.

Pukul 17.00 pun datang. Aku tahu saat lonceng dipukul sebanyak 7 kali. Itu pertanda waktu pulang sore hari. Aku segera menyisir rambutku dengan tanganku. Pokokny senarsis mungkin aku dandan. Akan kucegat dijembatan ini dan kuajak kenalan.

Ya, dia lewat. Gadis cantik berkacamata itu lewat. Tanpa basa-basi, saat tepat lewat di depanku, aku langsung panggil, "Linda, boleh aku kenalan?" sapaku.

Terkejut. Ia pun mengulurkan tangannya menyalamiku sambil malu-malu. "Linda Novita," jawawnya singkat.

"Maaf aku harus pulang, takut gak ada angkot ya?" dia ngeloyor pergi sebelum aku sempat menyebut namaku.

Aku puas. Aku pun pulang ke pondok. Aku menjadi sangat-sangat betah. Aku tidak lagi ingin pulang. Aku cinta sekolahku. Aku cinta pondok pesantrenku. Ya, aku cinta Linda Novita. Itu terus saja terbawa mimpi.

Seminggu kemudian, setelah kupikir masak-masak, aku cegat lagi di tempat yang sama aku ajak kenalan. Aku tidak tahu apakah karena keluguanku, atau kebegoanku, aku juga tidak tahu, tanpa proses pendekatan terlebih dahulu aku langsung cegat dan bilang, "Linda, I love you."

Tanpa menjawab, ia pergi begitu saja. Tapi aku lihat di wajahnya betapa ia terkejut mendengar uangkapan itu.

Itu terus aku lakukan hingga sepuluh kali. Tidak ada jawaban. Selalu dengan tindakan sama. Aku tahu itu adalah perasaan cinta dan sayang padanya begitu dalam. Aku mencintai dia. Aku tidak tahu caranya agar dia mau menjadi pacarku. Yang aku tahu adalah bahwa aku mencintainya dan aku katakan padanya dengan caraku waktu itu. Sepuluh kali kulakukan serupa tidak ada jawaban. Aku malu juga.

Tapi aku tidak pernah menyerah. Itu bukan tipeku, pikirku dalam hati. Aku harus mendapatkan hatinya walau sebentar. Gerilya pun dilakukan. Aku menulis surat. Aku menulis ungkapan perasaanku sedemikian rupa. Aku bukan pujangga, bukan pula sastrawan. Aku hanyalah anak kampung yang sekolah jauh di kota. Aku tuliskan semua yang aku rasakan.

Sekali tidak dibalas. Mungkin saja dia tidak sempat, pikirku. Aku kirim lagi yang kedua. Hal sama pun terjadi. Tidak ada balasan. Aku pun berpikiran sama. Hingga tujuh kali. Itu terjadi hingga aku hampir naik kelas 3 SMA. Aku menyerah. Tetapi aku masih saja tetap menginginkannya. Aku mencintainya.

Ia lulus SMP dan sekolah di sebuah SMEA baru di kecamatan lain. Pernah satu kali kulihat dia memakai seragam abu-abu putih. Hmmmm.... tambah cantik dia di mataku. Tapi ia tidak mau.

Hingga pada satu waktu, saat aku kelas III SMU aku harus menggantikan guru bahasa Inggris dan Matematika kelas 1 SMP. Mereka semua cuti hamil. Aku tidak pintar kedua pelajaran itu, tetapi pihak sekolah memintaku untuk menggantikan sementara. Aku ngajar kelas 1 SMP pelajaran matematika dan bahasa Inggris setiap aku pulang sekolah SMU. Kadang aku belum ganti baju, aku masuk kelas. Aku ngajar.

Di salah satu kelas yang aku ajar, di situ ada seorang gadis yang putihnya sama dengan Linda, dan ada juga kemiripan dengan Linda, bedanya di giginya. Kalau Linda giginya gingsul, adiknya ini gingsul keluar, semuanya. Aku panggil dia. Namanya Siska.

Aku tanya siska rumahnya di mana dan sebagainya. Karena aku berkepentingan dengan Linda, aku pun telah mendapatkan semua data yang aku butuhkan untuk investigasi. Dan aku pun melakukan yang sama kepada Siska. Dan ternyata Siska adalah adiknya Linda. Ini kesempatan terakhirku. Tetapi rasanya tidak mungkin aku sampaikan perasaan ini pada Siska.

Hingga pada bulan Juni 2012, saat aku di perpustakaan dan Siska datang ke perpustakaan, aku sudah siapkan surat terrakhir untuk Linda. Aku katakan terakhir karena kupikir itu memang benar-benar terakhir untuknya. Aku katakan bahwa aku sudah selesai SMA dan aku akan pulang kampung membantu bapakku macul di sawah. Aku minta maaf telah mengganggunya. Kalau tidak keberatan aku minta dia membalas suratku.

Yang sebenarnya adalah bahwa aku melanjutkan belajarku di Semarang. Aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang. Aku diterima di jurusan favorit di perguruan tinggi itu, Sastra Inggris. Tapi aku katakan aku akan membantu bapakku mencangkul di sawah.

Tanpa disangka tanpa diduga ia membalas suratku. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa ia menyatakan menerimaku. Ia katakan bahwa batu yang keras saja akan hancur bila ditetesi air terus menerus, apalagi hatinya. Pyar.... dunia terang benderang. Cintaku terbalas kawan.

Saat itu aku baru saja OSPEK. Liburan semester masih lama, masih 4 bulan lagi. Aku ingin menggulung waktu agar aku bisa segera apel ke Bogor. Aku ingin ketemu Linda, gadis pujaan hatiku. Ia begitu istimewanya di hatiku. Waktu kulalui begitu lambatnya. Tetapi yang pasti semangat belajarku luar biasa. Dan nilai betul-betul tidak mengecewakan. Indeks prestasiku 3.1 waktu itu. Bangga sekali.

Liburan semester aku langsung datang ke sekolahannya. Aku temui gurunya dan aku katakan padanya bahwa aku ingin ketemu Linda. Barangkali gurunya pernah muda juga, dan aku pun dizinkan. Di sinilah titik puncak kebahagiaanku, bertemu dengan gadis pujaanku dengan seragam abu-abu putihnya. Cantik sekali. Cantik luar biasa bak bidadari dari surgaloka. Dunia milik berdua.

Esoknya pun aku apel ke rumahnya. Bahagia sekali. Orang tuanya pun menyambut gembira, kecuali bapaknya. Bapaknya cuek bebek. Ampun masamnya wajahnya.

Waktu pun terasa begitu cepat, dan liburanku sudah selesai. Aku harus kembali belajar lagi di Semarang untuk semester 2. Aku belajar. Konsentrasiku agak buyar. Yang ada di otakku bukan pelajaran tetapi Linda.

Mei 1999, saat libur kampanye pemilu, aku langsung melesat cepat ke Bogor, ketemu pujaan hatiku. Aku dandang lebih rapi. Dengan naik angkot aku langsung merapat ke rumahnya.

Kuketuk pintu, dan ibunya menemuiku. Aku tanyakan apakah Linda ada. Linda pun keluar dengan memakai kaos putih dan rok abu-abu. Bidadariku tetap cantik walau apapun yang ia kenakan. Aku bilang rindu setengah mati.

Satu jam kami ngobrol berdua di ruang tamu. Linda terasa aneh. Ia diam seribu bahasa. Aku desak ada apa. Ia pun tetap diam dan hanya menjawab tidak ada apa-apa. Hingga akhirnya aku katakan padanya, "Lin, kalau memang tidak cinta, katakanlah."

Akhirnya Linda pun buka mulut, "Maaf ya, aku sudah dijodohin."

Aku tidak tahu, tiba-tiba petir menggelegar. Dunia berputar. Mataku berkunang-kunang. Aku tidak percaya rasanya. Hancur luluh dan berkeping-keping hatiku saat itu. Tanpa basa-basi aku langsung pamitan. Seluruh tulang belulangku terasa hancur. Aku tidak bisa jalan. Aku langsung pulang ke Semarang. Badanku kurus, bukan karena tidak punya uang untuk makan, tapi karena memang gak enak makan.

Di semester 3 aku terus memikirkannya. Nilaiku terjun bebas. Yang sebelumnya indeks prestasiku 3.0 kemudian turun bebas menjadi 1.0. Hancur!

Hingga sejak itu aku pun tidak pernah pacaran lagi. Aku berpikir bahwa perempuan selalu menyakiti, walau hatiku pun tetap terpatri nama Linda sampai kini. Linda Novita, mojang Bogor yang sangat cantik.

Hingga kini aku tidak pernah ketemu lagi. Aku tidak tahu lagi kabarnya sekarang. Yang jelas, Linda tetaplah cantik. Linda 17 tahun yang lalu tetap hidup. Ia tetap ada. Linda Novita gadis cantik yang pernah mengisi hatiku. Ia bukan cinta pertamaku, tetapi cintaku pertama yang tulus pada perempuan. Ya Linda Novita.

Aku yakin kini engkau telah punya keluarga dan bahagia. Semoga.

Terima kasih pernah mengisi hatiku. Terima kasih pernah menjadi bagian dari kenangan indahku. Semoga Tuhan selalu memberkahi hidupku.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sekolah Inggris Online, E-English Class