
Kehidupan dan rutinitas di Pondok Pesantren Subulussalam sangat ketat. Dan itu selalu monoton, berulang dan berulang terus. Jenuh. Iya. Aku merasakan kejenuhan yang teramat sangat. Terlebih lagi aturan lain-lain yang juga sangat ketat, termasuk hiburan.
Seluruh santri dilarang menonton televisi, mendengarkan radio, ataupun hiburan lain. Yang ada kami adalah harus belajar, belajar, dan belajar, baik belajar ilmu agama maupun belajar ilmu di sekolah formal.
Aku termasuk salah satu santri yang patuh. Aku termasuk salah satu santri yang patuh. Seluruh kegiatan aku ikuti dengan rajin dan senang hati, walau sebetulnya aku merasakan kejenuhan, tetapi bukan termasuk santri yang nakal.
Namun sebetulnya aku juga nakal. Nakalku adalah bahwa aku sebenarnya sebelum masuk pondok sudah kenal rokok. Inilah kenakalanku. Aku mencuri-curi merokok. Salah satu sahabat karibku perokok adalah Gendon. Dia temanku satu kelas yang juga sebagai lurah pondok waktu aku kelas 3.
Pernah suatu kali, gerembolan perokok yang sudah berkomplot merokok bareng. Ada lima orang yang sama-sama komplotan merokok bareng, aku, Panji, Gendon, Dayak, dan Kholik. Kami menyepakati merokok di kamar mandi belakang pondok yang sudah tidak dipakai. Satu batang rokok bergiliran. Dan memang ternyata inilah yang menyatukan visi dan misi kami.
Sedang asyik-asyiknya merokok, tiba-tiba kami melibat bayangan berkelebat. Seketika itu, yang ada di otak kami melihat teman-teman tidak ada rambut di kepalanya. Gundul. Karena itulah hukuman bagi perokok. Jika ketahuan digundul, dan yang lebih parah lagi ditampar sampai darah menetes. Takut sekali. Ternyata ia adalah Ato. Dia bukan perokok, tetapi dia tidak termasuk blok timur atau blok barat, dia masuk ke kelompok non blok alias netral. Dia tidak akan mungkin melaporkan pada lurah pondok.
Tanpa disangka ia langsung berucap, "Wow.... lagi pada konggres!" Tanpa ekspresi langsung pergi. Sejak itu hingga kini aku dan kawan-kawan mengatakan konggres kalau sedang merokok.
Kembali ke masalah hiburan. Di lingkungan pondokku, zaman itu memang lagi ramai-ramainya orang nanggap layar tancap jika hajatan. Selain murah meriah juga termasuk berteknologi. Keren juga. Pokoknya kalau siangnya mendengar mercon meletus berkali-kali, maka bisa dipastikan malamnya ada layar tancap.
30 September 1997, tepat di peringatan G30S/PKI aku mendengar letusan mercon berkali-kali. Aku sudah sangat yakin pasti nanti malam ada layar tancap. Dan letusan mercon itu bersumber dari tiga tempat yang berbeda, berarti ada tiga tanggapan layar tancap.
"Ah tidak akan pernah juga nonton lancar tancap," pikirku. Dan aku pun mengabaikan begitu saja.
Malam harinya, selepas ngaji di pondok, aku, Kholik, dan Toni pamitan pada Pak Lurah Gendon untuk main ke tempat Edwin, temanku sekelas yang tidak tinggal di pondok. Kami ada perlu di sana. Dan kami pun diizinkan.
Setelah urusan selesai, kami pun pamitan pulang. Dasar bocah-bocah kampung yang tidak pernah dapat hiburan, Kholik pun tergoda untuk menonton. Ternyata Toni pun ikut sepakat. Hanya aku yang sepakat. Aku mau pulang tapi aku tidak tahu jalannya, yang tahu jalannya adalah Kholik.
"Wis toh pokoke kowe melu wae," kata Kholik.
"Tapi aku takut digundul," jawabku.
"Gak apa-apa, kita kan sudah pamitan mau ke rumah Edwin," sahut Toni.
"Yo wis manut," sahutku.
Tetapi sebetulnya aku pun deg-degan. Aku tetap tidak tenang. Biasanya firasatku tidak meleset bahwa ini akan menjadi kasus.
Sampai di tempat tontonan, film kedua baru diputar. Aku ingat betul filmnya, judulnya pun sampai hari ini ingat. Dan film itu pula yang menjadi film favoritku sepanjang masa, "TAI CHI MASTER."
Selama nonton film aku terlena, terlena dengan cerita film. Aku terhanyut. Tapi tetap saja khawatir aku ingat digundul.
Film selesai diputar, aku pun langsung mengajak pulang. Tetapi kedua sahabatku tidak mau pulang. Aku tetap memaksa utnuk pulang. Akhirnya merek menyerah.
Pulang ke asrama sudah cukup larut, sekitar pukul 23.30. Gerbang sudah dikunci. Tidak ada pilihan lain kecuali lompat lewat jendela.
Ternyata, blok lawan kami mengintai. Mereka mencatat semua yang nonton film.
Keesokan harinya, ternyata ada 8 orang yang menonton. Pihak-pihak blok lawan kami melaporkan kepada Ketua Yayasan. Ketua Yayasan pun langsung mengeluarkan keptusan akhir bahwa kami harus gundul plondos, bukan hanya gundul pakai mesin, tapi benar-benar gundul.
1 Oktober 1997, tepat di ulang tahunku yang ke-17 aku digundul. Kepalaku gundul plonthos gara-gara nonton layar tancap.
Semenjak itu, aku hanya satu kali tok nonton layar tancap. Aku kapok.


2:30 PM
Lintang Sunu
Posted in:
0 comments:
Post a Comment