
Sekarang aku berada di pantai Teluk Jakarta. Sepanjang mata hanya kulihat hamparan air laut biru dan dihiasai beberapa perahu nelayan yang bergelayut diombang-ambik oleh gelombang.
Saat aku menatap hamparan air laut, pikiranku melayang. Aku tersadar bahwa memang benar kata orang-orang bijak bahwa sebenarnya kita bisa belajar dari apapun yang di sekitar kita. Begitu pula dari laut.
Lautan luas, adalah cekungan dari bagian bumi yang berisikan air yang mengandung kadar garam sangat-sangat tinggi. Cekungan ini berisikan air yang sangat dalam sehingga terlihat biru. Aku lihat di tengah-tengah sana gelombang luat nampak tenang, tetapi di tepian pantai, gelombangnya sangat kasar, keras, dan nampak sangat ganas. Di tengah sana, air laut nampak sangat bersih, tetapi yang di tepian sangat kotor dan membawa semua kotoran yang tadinya terbuang dari luat.
Laut tidak pernah protes, apapun yang masuk ke dalamnya. Ia diam dan tetap menerima. Ia ibarat penampung, tanpa memprotes apapun yang ditampungnya. Ia diam dan menerima saja.
Hebatnya laut ini adalah bahwa ia menerima tanpa protes, kemudian ia menyaringnya. Seluruh kotoran ia terima dan kemudian dibuang ke tepi. Ia tetap berjiwa bersih. Ia saring mana yang seharusnya disimpan dan mana yang baik. Laut memberikan penghidupan bagi banyak jiwa, bagi ikan, bagi manusia, dan bagi banyak lagi lainnya.
Berbeda dengan kita manusia. Manusia seringkali tidak konsisten, tidak dewasa seperti laut tadi. Manusia seringkali mau menerima yang baik dan buruk, tetapi di hatinya justru banyak menyimpan yang buruk. Manusia justru membuang yang baik. Manusia seringkali kurang bersikap dewasa.
Mari semua belajarlah mendewasa. Bersedialah menerima hal-hal baik, menampung aspirasi baik dan buruk, tetapi kemudian jangan menelan mentah-mentah. Pisah dan pilahlah mana yang seharusnya disimpan dan mana yang seharusnya dibuang. Jangan menyimpan kotoran dalam hati, jangan menyimpan sesuatu yang akhirnya akan merusak, baik merusak diri sendiri, orang lain, maupun kedua belah pihak (kita dan orang lain).


4:42 PM
Lintang Sunu
Posted in:
0 comments:
Post a Comment