Aku bukan termasuk perokok berat waktu itu, tetapi memang aku suka merokok. Bukan karena kebanyakan duit, atau karena sudah kencanduan. Merokok bagiku adalah satu kegiatan yang bisa membuatku tampil lebih percaya diri. Selain itu dengan meroko aku nampak aku bisa mengkhayalkan banyak hal, khususnya untuk mencari inspirasi.
Selama kehidupanku di Pondok, aku senang mencuri-curi kesempatan untuk bisa merokok bersama para gengku. Gendon adalah mitra sejatiku untuk merokok. "Pencurian" benar-benar bisa membuat jantungku berdebar sekaligus bangga. Berdebarnya jika ketahuan Ketua Yayasan, pasti aku akan kena tampar sampai bibirku berdarah, meski aku sendiri belum pernah ditampar. Bangganya apabila aku bisa merokok dan tidak ketahuan. Jika ketahuan bisa bahaya.
Ada satu kisah, adik kelasku, Manto namanya. Ia termasuk berandalan kecil. Kebetulan ia satu kampung juga denganku. Badannya yang kecil, suaranya yang melengking, dan polahe yang pethakilan gak karuan, teman-teman dari Jawa Timur menyebutnya ethes. Karena nakalnya bukan main, ia merokok malam hari di sekitar pondok. Kebetulan ia dapat jatah jaga malam.
Ia tidak sadar bahwa pas jatahnya jaga malam, tanpa sepengetahuannya ketua yayasan keliling juga, mengecek jangan-jangan anak-anak yang jatahnya ronda malam tidur.
Dengan bangganya Manto ini merokok tanpa ekspresi takut atau apapun, karena dia yakin tidak mungkin ketua yayasan akan mengetahui perilakunya ini. Ketika sedang asyik-asyiknya merokok, rokok dalam kondisi menyala di tangan, dan sebagian yang masih ada di dalam bungkusan ditaruh di kantong baju bagian depan.
Tiba-tiba ketua yayasan yang bertubuh tinggi besar lagi menyeramkan berdehem, "Hmmmm.... hmmm...."
Terkejut bukan kepalang, Manto bukan segera mematikan rokoknya justru malah membuangnya tetapi ia sempat menghisap. Ia pun menutup mulutnya yang penuh dengan asap rokok.
"Kamu merokok To?" tanya ketua yayasan.
"Gak pak," sambil membuka mulutnya yang penuh dengan kepulan asap rokok.
"Plak!" tamparan keras mendarat di bibirnya. Berdarah.
Ketua yayasan pun langsung mengambil bungkusan rokok yang ada di kantong bajunya sembari bertanya, "Ini apa?"
"Bukan apa-apa Pak," jawabnya singkat.
"Plak!!" tamparan kedua mendarat lagi di pipinya.
Keesokan harinya Manto dengan kondisi bibir pecah, dan sedikit mengsol karena sulit bicara, ia bercerita kepada kami. Serasa perut dikocok-kocok, kami terpingkal-pingkal sampai air mata mengalir.
Nurlela, temanku satu kelas mendengar cerita itu, dan ia pun mendekat.
"Kamu merokok juga?" sambil menatap ke arahku.
"Iya Nur. Tapi jangan bilang-bilang ya," pintaku pada Nurlela.
"Tenang saja," jawab Nurlela singkat dan kemudian beranjak pergi.
Aku tidak ingat bahwa waktu itu adalah tanggal 30 September dan besoknya adalah tanggal 1 Oktober, hari ulang tahunku. Ia pun sepertinya menyimpan sesuatu untuk dipersiapkan, tetapi aku tidak tahu sesuatu itu apa.
Keesokan harinya, Nurlela pun mengajakku ke toilet. Kupikir ada apa, kok tumben-tumbenan dia mengajakku ke toilet. Dia bilang ada sesuatu untukku yang spesial.
Dengan hati berdebar, aku pun mengikutinya menuju ke toilet. Dia masuk dan aku pun diajak masuk. Tambah deg-degan, mau ngapain ini cewek pikirku.
"Tenang sob, aku hanya ingin memberi sesuatu untukmu," kata Nurlela sambil menyodorkan bungkusan kado.
"Apa ini?" tanyaku.
"Pokoknya spesial buat kamu," jawabnya.
Penasaran, aku tidak langsung balik ke dalam kelas, tapi bungkusan kado itu langsung aku bawa masuk ke kamar pondok. Dag dig dug hati berdebar.
Ku buka pelan-pelan apa isinya. Hati-hati sekali. Aku berpikir Nurlela pasti menaruh hati padaku.
Mataku terbelalak manakala bungkusan kado itu sudah aku buka.
Apa isinya coba? Satu slop rokok Minak Djinggo Kretek.
"Wah kurang ajar ini si Nurlela," pikirku dalam hati. Tetapi lumayanlah. Maklum anak pondok gak pernah pegang uang.
Seluruh genk perokokku aku kumpulkan di kebun singkong di daerah perkebunan anak-anak pondok. Aku bawa satu bungkus. Kami pun merokok. Nikmat bukan alang kepalang, apalagi ditambah nyolong kelapa muda milik tetangga kebun. Wah tambah semangat.
Aku pun menghabiskan 4 batang rokok Minak Djinggo itu.
Sayang seribu sayang, bukan akhirnya menikmat sedapnya rokok Minak Djinggo, tetapi justru mabok setengah mati. Aku muntah-muntah merokok itu. Aku kapok merokok kretek lagi setelahnya.
Dasar Nurlela gila. Masa rokok kretek diberikan pada anak muda.


3:44 AM
Lintang Sunu
Posted in:
0 comments:
Post a Comment