
Bapakku memang seorang pemain ketoprak, meski bukan pemain ketoprak profesional, tetapi kala itu bapakku ibarat artis sinetron yang sangat terkenal. Saat itu sebetulnya bapak sudah punya anak dua, aku dan adikku, tetapi aku tidak tahu kenapa banyak gadis-gadis yang tergila-gila pada bapakku. Memang bapakku tampan, seperti aku kini (bebek silem lagi....).
Saat ada acara hajatan dan tanggapannya ketoprak, bapak seringkali diundang. Karena memang bapak senang seni, dan aku bilang juga seniman, bapak berangkat, ke manapun undangan datang. Bapak tidak lagi mempertimbangkan apakah akan dibayar dengan bahyaran besar atau tidak, tetapi yang pasti bapak merasa bahwa jiwa seninya tersalurkan.
Ketoprak pun tidak hanya dipentaskan saat orang hajatan saja, tetapi juga setiap hari raya. Di kampungku, Sidakaya, kala itu. Aku masih kelas 1 atau kelas 2 SD saat itu, bapak sudah menjadi salah satu pemain andalan, mungkin kalau di film atau di sinetron bapak sebagai pemeran utama.
Badan yang tidak tinggi besar, tapi cukup ideal, ia ditunjuk sebagai pemeran pemuda-pemuda tampan, seperti Damarwulan ataupun Subroto.
Hari Raya Idul Fitri tahun 1987, aku lupa bulannya, tetapi sebagai hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam, terlebih lagi pasti akan selalu meriah, bapak pun mulai aktif bermain ketoprak sejak pertengahan puasa. Ketoprak dipentaskan di tobong (semacam pusat teater). Seluruh penonton ditarik karcis sebesar Rp. 100,-, mungkin kalau hari ini sekitar 10 ribu rupiah, dan itu hanya berlaku satu sesi saja, sekitar 15 menit. Setelah itu penonton keluar lagi. Para pemain pun rehat sejenak, baru pentas lagi setelah penonton masuk kembali, tentu dengan membayar lagi.
Karena sebagai anak dari pemain inti dari ketoprak itu, aku tidak dipungut biaya, bahkan aku berkumpul dengan para artisnya. Mereka gagah-gagah dan cantik-cantik dengan pakaian tradisional mereka. Aku akan jadi ketoprak kelak kalau sudah besar, itu pikirku.
Malam itu, bapak berperan sebagai Damarwulan. Alur ceritanya aku tidak tahu pasti, karena sebetulnya bukan alur ceritanya yang aku nikmati, tetapi gamelan juga penampilan para pemainnya yang memukau. Suasana yang mencekam.
Bapakku sangat tampan dengan pakaian tradisionalnya saat memerankan Damarwulan. Aku pun terkesima melihat ketampanan bapakku. Saat kelir dibuka, dan bapak pun keluar, penonton riuh, memanggil-manggil nama bapakku, ada juga yang memanggil Damarwulan. Aku dengar sebagian bilang, "Damarwulan, kamu ganteng banget!"
Entah bagaimana plot atau alur ceritanya, yang aku tahu bapak tiba-tiba dipukuli dengan dahan dan daun kelor. Sang pasangan, aku tidak tahu siapa, yang pasti seorang cewek yang sangat cantik, menangis sejadi-jadinya saat Damarwulan dipukuli. Seluruh penonton pun diam seribu bahasa. Sebagian ada yang menangis. Tak terasa air mataku pun ikut meleleh. Itu bukan karena menangisi Damarwulan yang dipukuli, tetapi melihat bapakku yang dipukuli. Aku merasa kasihan.
Seketika itu pula, aku lari ke dalam panggung, teriak-teriak, "Jangan pukuli bapakku!"
Seluruh penonton terhenyak. Kelir pun ditutup. Dan bapakku pun menggendongku. Beliau bilang, "Ini ketoprak Nak. Bapak tidak sakit kok. Bapak nanti dapat bayaran," sembari mengelus rambutku.
Aku terus terisak, tidak sepatah kata pun terucap. Yang aku rasakan adalah aku tidak rela bapakku dipukuli. Aku sangat menyayangi bapakku. Siapapun tidak boleh memukuli bapakku.
Kini aku benar-benar paham bahwa itu adalah sandiwara. Ya, sandiwara. Bapakku memang pintar bersandiwara saat beliau memerankan peran tertentu dalam ketoprak, tetapi dalam dunia nyata, bapakku adalah seorang pribadi jujur yang aku sangat bangga padanya.
Jika dulu aku tidak rela bapak dipukuli di dalam ketoprak, kini aku tidak rela siapapun menyakiti bapakku. Aku bangga padamu Pak. Engkau pria terhebat yang aku temukan sepanjang hidupku.


4:11 PM
Lintang Sunu
Posted in:
0 comments:
Post a Comment