Thursday, July 5, 2012

Aku Ingin Jadi Sakti dan Disayang Orang

Akibat senang nonton film-film silat Indonesia, aku aku ter-mindset untuk menjadi sakti seperti Barry Prima, seperti Wiro Sableng, dan pendekar-pendekar lainnya. Kebal rasanya hebat. Sakti rasanya kondang. Alangkah bangganya kalau aku menjadi orang yang sakti mandraguna.

Kala malam hari aku kadang menghayalkan andaikan aku bisa menolong orang dengan kesaktian yang aku miliki. Terlebih lagi aku memang senang berkelana sejak kecil. Melihat orang berkelahi sudah biasa, apalagi kalau di orkes dangdut. Aku juga termasuk salah satu penonton yang senang joget. Makanya aku pun harus sakti untuk jaga diri. Aku harus kebal agar tidak mempan jika dibacok.

Awal memasuki kelas 3 SMP, setelah melalui perenungan panjang, aku putuskan untuk belajar ilmu kanuragan. Aku putuskan untuk belajar ilmu kesaktian, agar kebal, dan juga ilmu pengasihan. Wow.... hebatnya aku jika aku sakti, kebal, dan disayangi orang.

Aku mencari guru yang menurut hebat. Beliau mengajariku dua jenis ilmu, ilmu kebal dan ilmu pengasihan. Seluruh mantra dituliskan, dan syarat-syarat apa yang harus aku lakukan pun diberitahu semua. Salah satu syaratnya adalah tirakat puasa Senin dan Kamis, yang dimulai sejak maghrib sampai maghrib lagi selama 40 Senin dan 40 Kamis.

Puasa dimulai hari Senin, kebetulan kalau orang Jawa percaya dengan weton dan hitung-hitungannya, termasuk keberuntungan dan sebagainya. Meskipun aku tidak percaya dengan hitung-hitungan itu, tetapi karena kemauanku sangat kuat untuk meraih apa yang aku inginkan, aku pun mencoba meyakini.

Awalannya sangat berat. Aku lupa tanggalnya, tapi waktu itu hari Minggu sore. Setelah ashar, aku sudah mandi keramas, kemudian sudah makan. Setelah ashar itulah aku memulai ritual. Sejak ashar aku tidak boleh kena emperan rumah sekalipun, apalagi kok sampai masuk. Dan sampai esok maghrib aku juga tidak boleh tidur walau sedetik.

Sejak ashar aku pun jalan-jalan. Malam itu hujan sangat lebat. Dan syarat berikutnya adalah aku harus mandi tujuh sumur tua. Aku memilih sumur-sumur angker milik tetanggaku. Di setiap sumur aku harus mandi 7 timba. Tepat sumur keempat, aku terkejut bukan main. Ditimba ke-5 aku menengok ke pagar sumur. Di situ ada pocong yang menempel di pagar. Aku ingin teriak, ingin lari, tetapi karena saat mandi pun aku tidak boleh ketemu siapapun, dan diketahui siapapun, juga jika aku lari, otomatis batal, aku tahan semampuku. Begitu sudah 7 timba aku langsung bergegas pergi.

Tepat jam 12 malam, di tengah hujan yang sangat lebat dan dalam kondisi kedinginan, aku membakar kemenyan di tengah-tengah halaman depan rumah. Aku baca semua mantranya.

Selang satu minggu, ibarat senjata yang sedang diasah, aku pun merasakan. Aku yang tukang ngarit waktu SMP itu, aku tidak pernah luka, meskipun kena sabit. Cewek-cewek pun melirikku. Ah, aku laris.

Saat aku lulus SMP, baru aku jalankan 10 Senin dan 10 Kamis. Sejak lulus SMP aku pergi berpetualang, mengelana ke ibukota, jadi kuli bangunan. Saat jadi kuli itulah aku kenal seorang gadis yang bernama Rohyati. Dia asli dari Tegal. Aku naksir sama dia. Ternyata dia juga jatuh cinta padaku. Mudah sekali aku menaklukkannya. Saat aku ngomong cinta sama dia, langsung diterima, padahal aku hanyalah seorang kuli bangunan, dan dia seorang pelajar. Cantik dan banyak yang suka, tapi dia memilihku.

Dasar playboy kampung (dulu lho ya, sekarang gak), aku pun merasa tidak cukup mempunyai 1 pacar. Aku pun mencari mangsa lagi. Aku kenal lagi dengan seorang gadis cantik. Ia mojang Cianjur. Namanya Nengsih. Nengsih lebih cantik dari Rohyati. Aku pun tembak. Tanpa perlawanan sama sekali, ia pun jatuh hati padaku. Saat kerja, bosku pun sangat sayang padaku, aku sering diberi uang olehnya.

Aku tidak ingat sudah berapa Senin dan Kamis aku jalani, tiba-tiba aku dengar dari pengajian bahwa puasa itu dilakukan sejak fajar hingga tenggelamnya matahari, dan selain itu tidak boleh, haram. Mendengar itu aku pun berhenti. Aku takut pada Tuhan. Aku takut pada Allah SWT.

Saat berhenti itulah semuanya berubah. Bosku jadi mudah marah-marah. Jangankan memberiku uang, tiap hari dibentak-bentak iya, apalagi kalau menurutnya kerjaku tidak benar. Tanpa diduga, kedua pacarku, Rohyati dan Nengsih sama-sama mencariku, dan mereka ketemu temanku. Setelah tanya, temanku menjawab bahwa Rohyati, pacarku, pun mencarinya.

Akhirnya keduanya ketemu karena mencariku. Kebetulan waktu itu aku ada di lantai dua bangunan Pasar Malabar, Perum Karawachi, Tangerang. Keduanya bertemu. Dua-duanya adu mulut. Mereka memperebutkanku.

Aku bingung. Mereka berdua mendatangiku, dan memintaku memilih di antara satu. Aku bingung. Aku cinta sama Nengsih, tapi aku tidak tega sama Rohyati. Bingung, poloku semplok rasane. Aku harus bagaimana.

Akhirnya mereka pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Aku pun segera menyusul ke rumahnya Rohyati. Aku bilang bahwa aku dan Nengsih hanya teman biasa. Rohyati pun menangis. Ia minta putus. Kupikir tidak apa-apa, toh masih ada Nengsih.

Aku pun datang ke Nengsih. Aku pun bilang kata-kata yang sama. Dengkulku terasa lemas manakala mendengar jawaban Nengsih bahwa dia muak padaku. Aku diputus.

Dua-duanya memutuskanku, bosku marah-marah, aku juga kestrum listrik yang kabelnya lecet. Hampir mati. Dan patahlah hatiku.

Ternyata, apa yang aku lakukan dengan "menjadi sakti" dan "menjadi mudah disayangi" itu hanyalah fatamorgana. Kini aku paham bahwa menjadi "sakti" tidak bukan berarti memiliki kanuragan yang hebat. Menjadi sakti adalah menjadi orang yang bijak, orang yang mengerti, orang yang bisa menempatkan diri, orang yang rendah hati, dan orang yang bertakwa. Menjadi orang yang disayangi adalah bukan dengan ilmu pengasihan, tetapi memberikan kasih sayang tulus pada orang lain. Jika kita berikan kasih sayang yang tulus pada orang lain, maka Allah Yang Maha Pengasih itu pun akan mencurahkan kasih sayang-Nya pada kita melalui orang-orang yang menyayangi kita.

Jadi, kenapa kita mesti takut tidak menjadi sakti karena tidak punya ilmu kanuragan, atau pun takut menjadi terasing karena tidak mendaptkan kasih sayang. Jadilah diri sendiri. Jadilah pribadi yang menarik bagi orang lain, jadilah pribadi yang tidak diganggu orang lain, maka kita pun akan sakti dan dikasih-sayangi oleh orang lain.

Tidak percaya? Buktikan.

Wednesday, July 4, 2012

Aku Menangis Saat Damarwulan Dihajar

Bapakku memang seorang pemain ketoprak, meski bukan pemain ketoprak profesional, tetapi kala itu bapakku ibarat artis sinetron yang sangat terkenal. Saat itu sebetulnya bapak sudah punya anak dua, aku dan adikku, tetapi aku tidak tahu kenapa banyak gadis-gadis yang tergila-gila pada bapakku. Memang bapakku tampan, seperti aku kini (bebek silem lagi....).

Saat ada acara hajatan dan tanggapannya ketoprak, bapak seringkali diundang. Karena memang bapak senang seni, dan aku bilang juga seniman, bapak berangkat, ke manapun undangan datang. Bapak tidak lagi mempertimbangkan apakah akan dibayar dengan bahyaran besar atau tidak, tetapi yang pasti bapak merasa bahwa jiwa seninya tersalurkan.

Ketoprak pun tidak hanya dipentaskan saat orang hajatan saja, tetapi juga setiap hari raya. Di kampungku, Sidakaya, kala itu. Aku masih kelas 1 atau kelas 2 SD saat itu, bapak sudah menjadi salah satu pemain andalan, mungkin kalau di film atau di sinetron bapak sebagai pemeran utama.

Badan yang tidak tinggi besar, tapi cukup ideal, ia ditunjuk sebagai pemeran pemuda-pemuda tampan, seperti Damarwulan ataupun Subroto.

Hari Raya Idul Fitri tahun 1987, aku lupa bulannya, tetapi sebagai hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam, terlebih lagi pasti akan selalu meriah, bapak pun mulai aktif bermain ketoprak sejak pertengahan puasa. Ketoprak dipentaskan di tobong (semacam pusat teater). Seluruh penonton ditarik karcis sebesar Rp. 100,-, mungkin kalau hari ini sekitar 10 ribu rupiah, dan itu hanya berlaku satu sesi saja, sekitar 15 menit. Setelah itu penonton keluar lagi. Para pemain pun rehat sejenak, baru pentas lagi setelah penonton masuk kembali, tentu dengan membayar lagi.

Karena sebagai anak dari pemain inti dari ketoprak itu, aku tidak dipungut biaya, bahkan aku berkumpul dengan para artisnya. Mereka gagah-gagah dan cantik-cantik dengan pakaian tradisional mereka. Aku akan jadi ketoprak kelak kalau sudah besar, itu pikirku.

Malam itu, bapak berperan sebagai Damarwulan. Alur ceritanya aku tidak tahu pasti, karena sebetulnya bukan alur ceritanya yang aku nikmati, tetapi gamelan juga penampilan para pemainnya yang memukau. Suasana yang mencekam.

Bapakku sangat tampan dengan pakaian tradisionalnya saat memerankan Damarwulan. Aku pun terkesima melihat ketampanan bapakku. Saat kelir dibuka, dan bapak pun keluar, penonton riuh, memanggil-manggil nama bapakku, ada juga yang memanggil Damarwulan. Aku dengar sebagian bilang, "Damarwulan, kamu ganteng banget!"

Entah bagaimana plot atau alur ceritanya, yang aku tahu bapak tiba-tiba dipukuli dengan dahan dan daun kelor. Sang pasangan, aku tidak tahu siapa, yang pasti seorang cewek yang sangat cantik, menangis sejadi-jadinya saat Damarwulan dipukuli. Seluruh penonton pun diam seribu bahasa. Sebagian ada yang menangis. Tak terasa air mataku pun ikut meleleh. Itu bukan karena menangisi Damarwulan yang dipukuli, tetapi melihat bapakku yang dipukuli. Aku merasa kasihan.

Seketika itu pula, aku lari ke dalam panggung, teriak-teriak, "Jangan pukuli bapakku!"

Seluruh penonton terhenyak. Kelir pun ditutup. Dan bapakku pun menggendongku. Beliau bilang, "Ini ketoprak Nak. Bapak tidak sakit kok. Bapak nanti dapat bayaran," sembari mengelus rambutku.

Aku terus terisak, tidak sepatah kata pun terucap. Yang aku rasakan adalah aku tidak rela bapakku dipukuli. Aku sangat menyayangi bapakku. Siapapun tidak boleh memukuli bapakku.

Kini aku benar-benar paham bahwa itu adalah sandiwara. Ya, sandiwara. Bapakku memang pintar bersandiwara saat beliau memerankan peran tertentu dalam ketoprak, tetapi dalam dunia nyata, bapakku adalah seorang pribadi jujur yang aku sangat bangga padanya.

Jika dulu aku tidak rela bapak dipukuli di dalam ketoprak, kini aku tidak rela siapapun menyakiti bapakku. Aku bangga padamu Pak. Engkau pria terhebat yang aku temukan sepanjang hidupku.

Hadiah Ulang Tahun Terkonyolku

Aku bukan termasuk perokok berat waktu itu, tetapi memang aku suka merokok. Bukan karena kebanyakan duit, atau karena sudah kencanduan. Merokok bagiku adalah satu kegiatan yang bisa membuatku tampil lebih percaya diri. Selain itu dengan meroko aku nampak aku bisa mengkhayalkan banyak hal, khususnya untuk mencari inspirasi.

Selama kehidupanku di Pondok, aku senang mencuri-curi kesempatan untuk bisa merokok bersama para gengku. Gendon adalah mitra sejatiku untuk merokok. "Pencurian" benar-benar bisa membuat jantungku berdebar sekaligus bangga. Berdebarnya jika ketahuan Ketua Yayasan, pasti aku akan kena tampar sampai bibirku berdarah, meski aku sendiri belum pernah ditampar. Bangganya apabila aku bisa merokok dan tidak ketahuan. Jika ketahuan bisa bahaya.

Ada satu kisah, adik kelasku, Manto namanya. Ia termasuk berandalan kecil. Kebetulan ia satu kampung juga denganku. Badannya yang kecil, suaranya yang melengking, dan polahe yang pethakilan gak karuan, teman-teman dari Jawa Timur menyebutnya ethes. Karena nakalnya bukan main, ia merokok malam hari di sekitar pondok. Kebetulan ia dapat jatah jaga malam.

Ia tidak sadar bahwa pas jatahnya jaga malam, tanpa sepengetahuannya ketua yayasan keliling juga, mengecek jangan-jangan anak-anak yang jatahnya ronda malam tidur.

Dengan bangganya Manto ini merokok tanpa ekspresi takut atau apapun, karena dia yakin tidak mungkin ketua yayasan akan mengetahui perilakunya ini. Ketika sedang asyik-asyiknya merokok, rokok dalam kondisi menyala di tangan, dan sebagian yang masih ada di dalam bungkusan ditaruh di kantong baju bagian depan.

Tiba-tiba ketua yayasan yang bertubuh tinggi besar lagi menyeramkan berdehem, "Hmmmm.... hmmm...."

Terkejut bukan kepalang, Manto bukan segera mematikan rokoknya justru malah membuangnya tetapi ia sempat menghisap. Ia pun menutup mulutnya yang penuh dengan asap rokok.

"Kamu merokok To?" tanya ketua yayasan.
"Gak pak," sambil membuka mulutnya yang penuh dengan kepulan asap rokok.
"Plak!" tamparan keras mendarat di bibirnya. Berdarah.
Ketua yayasan pun langsung mengambil bungkusan rokok yang ada di kantong bajunya sembari bertanya, "Ini apa?"
"Bukan apa-apa Pak," jawabnya singkat.
"Plak!!" tamparan kedua mendarat lagi di pipinya.

Keesokan harinya Manto dengan kondisi bibir pecah, dan sedikit mengsol karena sulit bicara, ia bercerita kepada kami. Serasa perut dikocok-kocok, kami terpingkal-pingkal sampai air mata mengalir.

Nurlela, temanku satu kelas mendengar cerita itu, dan ia pun mendekat.
"Kamu merokok juga?" sambil menatap ke arahku.
"Iya Nur. Tapi jangan bilang-bilang ya," pintaku pada Nurlela.
"Tenang saja," jawab Nurlela singkat dan kemudian beranjak pergi.

Aku tidak ingat bahwa waktu itu adalah tanggal 30 September dan besoknya adalah tanggal 1 Oktober, hari ulang tahunku. Ia pun sepertinya menyimpan sesuatu untuk dipersiapkan, tetapi aku tidak tahu sesuatu itu apa.

Keesokan harinya, Nurlela pun mengajakku ke toilet. Kupikir ada apa, kok tumben-tumbenan dia mengajakku ke toilet. Dia bilang ada sesuatu untukku yang spesial.

Dengan hati berdebar, aku pun mengikutinya menuju ke toilet. Dia masuk dan aku pun diajak masuk. Tambah deg-degan, mau ngapain ini cewek pikirku.

"Tenang sob, aku hanya ingin memberi sesuatu untukmu," kata Nurlela sambil menyodorkan bungkusan kado.
"Apa ini?" tanyaku.
"Pokoknya spesial buat kamu," jawabnya.

Penasaran, aku tidak langsung balik ke dalam kelas, tapi bungkusan kado itu langsung aku bawa masuk ke kamar pondok. Dag dig dug hati berdebar.

Ku buka pelan-pelan apa isinya. Hati-hati sekali. Aku berpikir Nurlela pasti menaruh hati padaku.

Mataku terbelalak manakala bungkusan kado itu sudah aku buka.
Apa isinya coba? Satu slop rokok Minak Djinggo Kretek.

"Wah kurang ajar ini si Nurlela," pikirku dalam hati. Tetapi lumayanlah. Maklum anak pondok gak pernah pegang uang.

Seluruh genk perokokku aku kumpulkan di kebun singkong di daerah perkebunan anak-anak pondok. Aku bawa satu bungkus. Kami pun merokok. Nikmat bukan alang kepalang, apalagi ditambah nyolong kelapa muda milik tetangga kebun. Wah tambah semangat.

Aku pun menghabiskan 4 batang rokok Minak Djinggo itu.

Sayang seribu sayang, bukan akhirnya menikmat sedapnya rokok Minak Djinggo, tetapi justru mabok setengah mati. Aku muntah-muntah merokok itu. Aku kapok merokok kretek lagi setelahnya.

Dasar Nurlela gila. Masa rokok kretek diberikan pada anak muda.

Monday, July 2, 2012

Menjadi Dewasa Berarti Menjadi Seperti Laut

Sekarang aku berada di pantai Teluk Jakarta. Sepanjang mata hanya kulihat hamparan air laut biru dan dihiasai beberapa perahu nelayan yang bergelayut diombang-ambik oleh gelombang.

Saat aku menatap hamparan air laut, pikiranku melayang. Aku tersadar bahwa memang benar kata orang-orang bijak bahwa sebenarnya kita bisa belajar dari apapun yang di sekitar kita. Begitu pula dari laut.

Lautan luas, adalah cekungan dari bagian bumi yang berisikan air yang mengandung kadar garam sangat-sangat tinggi. Cekungan ini berisikan air yang sangat dalam sehingga terlihat biru. Aku lihat di tengah-tengah sana gelombang luat nampak tenang, tetapi di tepian pantai, gelombangnya sangat kasar, keras, dan nampak sangat ganas. Di tengah sana, air laut nampak sangat bersih, tetapi yang di tepian sangat kotor dan membawa semua kotoran yang tadinya terbuang dari luat.

Laut tidak pernah protes, apapun yang masuk ke dalamnya. Ia diam dan tetap menerima. Ia ibarat penampung, tanpa memprotes apapun yang ditampungnya. Ia diam dan menerima saja.

Hebatnya laut ini adalah bahwa ia menerima tanpa protes, kemudian ia menyaringnya. Seluruh kotoran ia terima dan kemudian dibuang ke tepi. Ia tetap berjiwa bersih. Ia saring mana yang seharusnya disimpan dan mana yang baik. Laut memberikan penghidupan bagi banyak jiwa, bagi ikan, bagi manusia, dan bagi banyak lagi lainnya.

Berbeda dengan kita manusia. Manusia seringkali tidak konsisten, tidak dewasa seperti laut tadi. Manusia seringkali mau menerima yang baik dan buruk, tetapi di hatinya justru banyak menyimpan yang buruk. Manusia justru membuang yang baik. Manusia seringkali kurang bersikap dewasa.

Mari semua belajarlah mendewasa. Bersedialah menerima hal-hal baik, menampung aspirasi baik dan buruk, tetapi kemudian jangan menelan mentah-mentah. Pisah dan pilahlah mana yang seharusnya disimpan dan mana yang seharusnya dibuang. Jangan menyimpan kotoran dalam hati, jangan menyimpan sesuatu yang akhirnya akan merusak, baik merusak diri sendiri, orang lain, maupun kedua belah pihak (kita dan orang lain).

Gara-Gara Layar Tancap Aku Digundul

Kehidupan dan rutinitas di Pondok Pesantren Subulussalam sangat ketat. Dan itu selalu monoton, berulang dan berulang terus. Jenuh. Iya. Aku merasakan kejenuhan yang teramat sangat. Terlebih lagi aturan lain-lain yang juga sangat ketat, termasuk hiburan.

Seluruh santri dilarang menonton televisi, mendengarkan radio, ataupun hiburan lain. Yang ada kami adalah harus belajar, belajar, dan belajar, baik belajar ilmu agama maupun belajar ilmu di sekolah formal.

Aku termasuk salah satu santri yang patuh. Aku termasuk salah satu santri yang patuh. Seluruh kegiatan aku ikuti dengan rajin dan senang hati, walau sebetulnya aku merasakan kejenuhan, tetapi bukan termasuk santri yang nakal.

Namun sebetulnya aku juga nakal. Nakalku adalah bahwa aku sebenarnya sebelum masuk pondok sudah kenal rokok. Inilah kenakalanku. Aku mencuri-curi merokok. Salah satu sahabat karibku perokok adalah Gendon. Dia temanku satu kelas yang juga sebagai lurah pondok waktu aku kelas 3.

Pernah suatu kali, gerembolan perokok yang sudah berkomplot merokok bareng. Ada lima orang yang sama-sama komplotan merokok bareng, aku, Panji, Gendon, Dayak, dan Kholik. Kami menyepakati merokok di kamar mandi belakang pondok yang sudah tidak dipakai. Satu batang rokok bergiliran. Dan memang ternyata inilah yang menyatukan visi dan misi kami.

Sedang asyik-asyiknya merokok, tiba-tiba kami melibat bayangan berkelebat. Seketika itu, yang ada di otak kami melihat teman-teman tidak ada rambut di kepalanya. Gundul. Karena itulah hukuman bagi perokok. Jika ketahuan digundul, dan yang lebih parah lagi ditampar sampai darah menetes. Takut sekali. Ternyata ia adalah Ato. Dia bukan perokok, tetapi dia tidak termasuk blok timur atau blok barat, dia masuk ke kelompok non blok alias netral. Dia tidak akan mungkin melaporkan pada lurah pondok.

Tanpa disangka ia langsung berucap, "Wow.... lagi pada konggres!" Tanpa ekspresi langsung pergi. Sejak itu hingga kini aku dan kawan-kawan mengatakan konggres kalau sedang merokok.

Kembali ke masalah hiburan. Di lingkungan pondokku, zaman itu memang lagi ramai-ramainya orang nanggap layar tancap jika hajatan. Selain murah meriah juga termasuk berteknologi. Keren juga. Pokoknya kalau siangnya mendengar mercon meletus berkali-kali, maka bisa dipastikan malamnya ada layar tancap.

30 September 1997, tepat di peringatan G30S/PKI aku mendengar letusan mercon berkali-kali. Aku sudah sangat yakin pasti nanti malam ada layar tancap. Dan letusan mercon itu bersumber dari tiga tempat yang berbeda, berarti ada tiga tanggapan layar tancap.

"Ah tidak akan pernah juga nonton lancar tancap," pikirku. Dan aku pun mengabaikan begitu saja.

Malam harinya, selepas ngaji di pondok, aku, Kholik, dan Toni pamitan pada Pak Lurah Gendon untuk main ke tempat Edwin, temanku sekelas yang tidak tinggal di pondok. Kami ada perlu di sana. Dan kami pun diizinkan.

Setelah urusan selesai, kami pun pamitan pulang. Dasar bocah-bocah kampung yang tidak pernah dapat hiburan, Kholik pun tergoda untuk menonton. Ternyata Toni pun ikut sepakat. Hanya aku yang sepakat. Aku mau pulang tapi aku tidak tahu jalannya, yang tahu jalannya adalah Kholik.

"Wis toh pokoke kowe melu wae," kata Kholik.
"Tapi aku takut digundul," jawabku.
"Gak apa-apa, kita kan sudah pamitan mau ke rumah Edwin," sahut Toni.
"Yo wis manut," sahutku.

Tetapi sebetulnya aku pun deg-degan. Aku tetap tidak tenang. Biasanya firasatku tidak meleset bahwa ini akan menjadi kasus.

Sampai di tempat tontonan, film kedua baru diputar. Aku ingat betul filmnya, judulnya pun sampai hari ini ingat. Dan film itu pula yang menjadi film favoritku sepanjang masa, "TAI CHI MASTER."

Selama nonton film aku terlena, terlena dengan cerita film. Aku terhanyut. Tapi tetap saja khawatir aku ingat digundul.

Film selesai diputar, aku pun langsung mengajak pulang. Tetapi kedua sahabatku tidak mau pulang. Aku tetap memaksa utnuk pulang. Akhirnya merek menyerah.

Pulang ke asrama sudah cukup larut, sekitar pukul 23.30. Gerbang sudah dikunci. Tidak ada pilihan lain kecuali lompat lewat jendela.

Ternyata, blok lawan kami mengintai. Mereka mencatat semua yang nonton film.

Keesokan harinya, ternyata ada 8 orang yang menonton. Pihak-pihak blok lawan kami melaporkan kepada Ketua Yayasan. Ketua Yayasan pun langsung mengeluarkan keptusan akhir bahwa kami harus gundul plondos, bukan hanya gundul pakai mesin, tapi benar-benar gundul.

1 Oktober 1997, tepat di ulang tahunku yang ke-17 aku digundul. Kepalaku gundul plonthos gara-gara nonton layar tancap.

Semenjak itu, aku hanya satu kali tok nonton layar tancap. Aku kapok.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sekolah Inggris Online, E-English Class